Seorang pedagang kuliner di Yogyakarta mendadak viral di media sosial setelah wajahnya dinilai mirip dengan penyanyi pop Jawa terkenal, Denny Caknan. Pedagang tersebut menawarkan belasan varian martabak manis dengan harga yang terjangkau.
Viral di Media Sosial
Sosok penjual martabak manis tersebut menarik perhatian warganet usai videonya dibagikan melalui akun Instagram @nsaalw pada 24 Oktober. Pedagang itu diketahui bernama Hendra, pemilik usaha Martabak Gendhis yang berjualan di Jalan Ireda, tepatnya di belakang Purawisata, Yogyakarta, dan telah beroperasi sejak tahun 2021 pascaluasnya pandemi Covid-19.
Hendra menyediakan belasan pilihan rasa martabak manis, di antaranya Cokelat Susu, Nanas Susu, Strawberry Susu, Blueberry Susu, hingga Cokelat Keju Susu. Seluruh varian tersebut dijual dengan kisaran harga yang ramah di kantong, yakni antara Rp10.000 hingga Rp18.000.
Pengakuan Hendra
Saat ditemui detikFood pada 26 Oktober, Hendra menyatakan dirinya sama sekali tidak pernah menyadari kemiripan wajahnya dengan sang pelantun lagu pop Jawa. Ia justru mengetahui hal tersebut pertama kali dari para pembeli dan orang-orang di sekitarnya yang sering melontarkan komentar serupa.
“Saya sendiri dibilang mirip Denny Caknan, ya saya tidak tahu. Saya mirip atau tidak, saya juga tidak menyadari. Tapi banyak orang yang bilang mirip,” tutur Hendra.
Ia menilai tanggapan tersebut sebagai sebuah karunia dan mensyukurinya. Hendra berpandangan bahwa kemiripan fisik yang diperbincangkan itu justru mendatangkan berkah tersendiri dan menjadi daya tarik bagi pelanggan untuk mendatangi tempat usahanya.
“Mungkin itu rezeki saya, menjadi daya tarik pembeli untuk datang,” ucapnya.
Perjalanan Usaha Kuliner
Sebelum sukses dengan Martabak Gendhis, Hendra sempat mencoba berbagai peruntungan di bidang kuliner dengan menjual aneka ragam makanan. Ia menceritakan bahwa dirinya pernah merintis usaha bubur, rujak, bebek goreng, hingga berbagai hidangan penyetan.
Kendati demikian, jenis-jenis usaha makanan tersebut tidak mampu bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Dari sekian banyak kuliner yang pernah dijajakannya, hanya usaha martabak yang sanggup bertahan dan eksis hingga saat ini.
“Sebenarnya dulu saya jualan banyak makanan. Sebelum martabak, saya pernah jualan bubur, rujak, bebek goreng, dan penyetan, tetapi tidak bisa bertahan lama. Yang bertahan lama ini hanya martabak,” terangnya.
Usaha yang dibangunnya selepas masa pandemi Covid-19 itu kini terus berputar sebagai sumber penghidupannya sehari-hari. Hendra bahkan sempat terbesit niat untuk beralih ke bidang usaha lain seandainya bisnis martabak tersebut gagal di tengah jalan.
“Mungkin kalau martabak ini tidak jadi, saya akan beralih ke usaha yang lainnya. Tapi alhamdulillah bisa bertahan sampai saat ini,” ungkap Hendra.
Mengenai jumlah produksi harian, Hendra menyampaikan bahwa penggunaan adonan martabaknya bersifat fluktuatif menyesuaikan tingkat penjualan. Dalam sehari, ia biasanya menghabiskan sekitar 9 hingga 10 kilogram adonan.
“Gak tentu sih, tapi rata-rata ya 9-10 kilogram adonan perhari,” pungkas Hendra.
Sumber: Food - Detikcom





