Daftar Isi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya sedang mempertimbangkan untuk memilih apakah akan mencapai kesepakatan damai dengan Iran atau menghancurkan negara tersebut secara total. Pernyataan ini disampaikan ketika para investor tengah mencermati eskalasi ketegangan yang kian memuncak di kawasan Timur Tengah.
Pertimbangan Keputusan dan Fasilitas Nuklir Iran
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada hari Minggu, Trump mengungkapkan bahwa ia berada dalam masa penentuan sikap. Menurut Trump, ia dihadapkan pada pilihan antara menyelesaikan konflik dengan mudah atau mengambil opsi kesepakatan dengan Teheran.
“Do I finish it off, which would be very easy to do, or do I make a deal? It’s getting to be decision time,” ujar Trump dalam wawancara tersebut.
Trump menyebutkan bahwa salah satu target potensial militer Amerika Serikat adalah Pickaxe Mountain, sebuah fasilitas bawah tanah yang terhubung dengan program nuklir Iran. Ia menambahkan bahwa tiga fasilitas nuklir lainnya telah hancur total sementara situasi di Pickaxe Mountain dipantau secara ketat dari luar angkasa.
“We can read the badge on somebody’s shirt from space, okay? We know exactly what’s going on at Pickaxe Mountain. We know the other three [nuclear sites] are obliterated,” tutur Trump.
Serangan udara terakhir Amerika Serikat di Iran terkonfirmasi terjadi pada 1 September. Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa serangan tidak akan dilanjutkan hingga pemilihan paruh waktu pada 3 November berlalu, sementara pihak Teheran menyatakan tengah mempersiapkan tanggapan militer terhadap segala bentuk serangan dari Amerika Serikat.
Dinamika Selat Hormuz dan Upaya Mediasi
Di tengah situasi tersebut, mediator dari Qatar yang memegang peran penting dalam perundingan antara Washington dan Teheran dikabarkan mengunjungi Teheran pada hari Minggu, seperti dilaporkan Reuters. Kunjungan itu berlangsung bersamaan dengan berlanjutnya serangan kelompok militan Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi sepanjang akhir pekan.
Trump kembali mengklaim bahwa Amerika Serikat menguasai Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan global serta titik rawan konflik. Ia beralasan aliran minyak mentah telah kembali ke tingkat sebelum perang, meskipun harga energi tetap tinggi akibat gangguan pasokan dan pengetatan kapasitas kilang global.
Baik Washington maupun Teheran berulang kali menyatakan klaim penguasaan atas jalur perairan tersebut, tempat di mana arus perdagangan masih mengalami pembatasan ketat yang berdampak pada harga konsumen. Sebelumnya pada bulan ini, sebuah kapal kontainer berbendera Singapura tenggelam di selat itu setelah terkena proyektil tak dikenal dan terbakar.
Ali Ozmaei selaku Kepala Angkatan Laut Garda Revolusi Iran sempat menyampaikan pada awal bulan ini bahwa Teheran sedang menantikan saat-saat untuk menenggelamkan kapal perang Amerika Serikat.
Pertemuan Tingkat Tinggi di Teheran
Sejumlah pejabat senior dari Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dijadwalkan melakukan pertemuan dengan pimpinan Iran di Teheran pada hari Senin. Ketiga negara tersebut sebelumnya telah meneken Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah pada bulan Agustus untuk memperkuat kerja sama pertahanan dengan ketentuan serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan bagi seluruh anggota.
Pertemuan tingkat tinggi ini merupakan agenda perdana kelompok tersebut sejak rudal dan drone milisi Houthi menyerang berbagai lokasi di Arab Saudi, termasuk Bandara Riyadh serta gedung administrasi milik perusahaan minyak raksasa Saudi Aramco. Akibat rangkaian serangan mematikan tersebut, Arab Saudi pekan lalu memutuskan untuk menunda penyelenggaraan konferensi utama Future Investment Initiative hingga tahun 2027 karena alasan keamanan.
Sumber: US Top News and Analysis





