Gelombang ancaman bom baru memicu pengalihan penerbangan di berbagai wilayah Eropa pada hari Jumat, sekaligus memperluas sasaran ke sejumlah lembaga penyiaran media.
Ancaman Menargetkan Media Penyiaran
Perusahaan penyiaran asal Inggris, Sky, menyatakan menjadi salah satu ruang redaksi yang menerima ancaman bom. Seorang juru bicara menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan penilaian keamanan dan melaporkan masalah tersebut kepada pihak berwenang terkait.
Sementara itu, stasiun televisi Bulgaria, Nova TV, dan penyiaran publik Irlandia, RTE, menerima ancaman bom melalui surat elektronik dari seseorang yang mengaku bernama “Mikhail Andropov”. Pesan tersebut berjudul “Pesan untuk Barat” dan menggambarkan ancaman itu sebagai permulaan dari gangguan yang lebih luas di seluruh Eropa.
RTE sempat mengevakuasi staf, termasuk para penyiar radio dan televisi, di Dublin setelah menerima email tersebut pada Jumat pagi. Pembawa acara RTE Radio One, David McCullagh, kemudian menginformasikan kepada para pendengar bahwa ancaman tersebut memperingatkan sebuah bom akan meledak dalam waktu 45 menit.
Pemerintah Irlandia menyatakan bahwa klaim bom palsu tersebut juga dikirimkan kepada Virgin Media, radio Newstalk, serta surat kabar The Irish Independent. Pihak pemerintah menambahkan bahwa belum jelas pihak mana yang berada di balik rangkaian ancaman ini.
Pemerintah Irlandia dalam keterangannya menilai bahwa ancaman tersebut terjadi menyusul gangguan berkelanjutan pada penerbangan di seluruh Eropa akibat ancaman serupa, sehingga tampak besar kemungkinan ini merupakan kampanye gangguan yang terkoordinasi.
Gangguan Penerbangan dan Respons Otoritas
Rangkaian insiden ini terjadi sehari setelah ancaman bom palsu mengganggu lebih dari dua lusin penerbangan di Eropa pada hari Kamis, serta berselang beberapa hari setelah sejumlah pesawat lain dan sebuah kapal pesiar menerima peringatan bom.
Menteri Pertahanan Hungaria, Romulusz Ruszin-Szendi, menyatakan bahwa pada hari Jumat, sejumlah jet mengawal pesawat penumpang yang terbang dari Brussels menuju Sofia serta dari Praha menuju Bucharest dan Siprus melewati wilayah udara Hungaria akibat ancaman bom. Ia juga menyebutkan bahwa Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) telah memerintahkan patroli udara di dekat perbatasan Hungaria-Romania, yang menjadi laporan pertama keterlibatan aliansi pertahanan Barat tersebut.
Kepolisian Denmark mengonfirmasi adanya ancaman yang diarahkan pada lalu lintas di bandara Kopenhagen, namun menegaskan bahwa tidak ada bahaya bagi para penumpang. Pihak bandara menyatakan operasional berjalan normal.
Kepolisian Ceko mencatat ancaman bom terhadap sembilan penerbangan yang berangkat dari atau mendarat di Praha. Seorang juru bicara bandara menyatakan tidak ada penerbangan yang dibatalkan akibat kejadian tersebut.
Pemerintah Prancis melaporkan empat ancaman bom baru terhadap pesawat yang terbang di atas wilayah udara Prancis, dan memastikan seluruh pesawat mendarat dengan selamat. Di tempat terpisah, sebuah penerbangan Ryanair dari Roma mendarat sesuai jadwal di Lisbon seperti dilaporkan oleh CNN Portugal, sementara penerbangan WizzAir dari Praha menuju Roma dialihkan ke Venesia.
Otoritas lalu lintas udara Eropa, Eurocontrol, pada hari Jumat menyampaikan bahwa pihaknya sedang memantau situasi serta bekerja sama erat dengan maskapai, bandara, penyedia layanan navigasi, dan kelompok lainnya di Eropa untuk memitigasi gangguan arus lalu lintas udara.
Wartawan Al Jazeera, Frances Read, melaporkan dari London pada hari Jumat bahwa kendati ancaman tersebut sejauh ini terbukti tidak kredibel, ruang lingkup gangguannya tampak semakin meluas. Jumlah ancaman palsu pada pekan ini membuat pemerintah di berbagai negara mulai memperhatikan asal-usulnya serta memikirkan solusi cara menanganinya.
Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, menyatakan bahwa belum dapat dipastikan apakah ancaman palsu ini terhubung dengan serangan siber yang menargetkan supermarket di seluruh Eropa serta layanan darah nasional Prancis dengan cara menaikkan suhu lemari pendingin dan pembeku yang terhubung ke internet. Menurutnya, seluruh kejadian tersebut menunjukkan bahwa saat ini infrastruktur sipil sedang berada di bawah serangan.
Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, berpendapat bahwa ancaman bom terhadap pesawat merupakan bentuk agresi hibrida serta perang psikologis sekaligus serangan terhadap demokrasi Eropa oleh kekuatan-kekuatan otokratis. Hal tersebut disampaikannya kepada penyiar Spanyol, RTVE, dengan menegaskan bahwa situasi ini jelas bukan sebuah kebetulan.







