Daftar Isi
Sebuah video viral mengenai operasi penyelamatan palsu di sebuah rumah di pinggiran ibu kota Ukraina, Kyiv, memicu gelombang protes dan bentrokan dengan aparat. Insiden tersebut melibatkan seorang perempuan yang menyamar sebagai paramedis untuk mengeklaim adanya penyiksaan terhadap pria-pria yang menghindari wajib militer.
Kronologi Insiden dan Penyamaran Paramedis Palsu
Perempuan tersebut diidentifikasi sebagai Valentyna Moloda, seorang perawat berusia 49 tahun yang pernah bekerja di klinik bedah plastik dan tidak memiliki izin berpraktik sebagai paramedis. Mengenakan seragam paramedis baru dan riasan rapi, ia berlutut di hadapan polisi sambil berteriak dan memohon agar diizinkan masuk ke dalam rumah berlantai dua di Petropavlivska-Borshchagivka.
Ambulans yang membawanya menampilkan logo perusahaan medis swasta yang dilaporkan berhenti beroperasi pada 2023. Salah satu anggota timnya menyiarkan langsung situasi tersebut, sementara massa yang berkumpul meneriakkan tuntutan agar diizinkan masuk ke tempat yang disebut sebagai ruang penyiksaan bagi 40 orang penghindar wajib militer.
Aksi tersebut berujung pada kericuhan ketika para pengunjuk rasa melempari polisi dengan telur dan tomat ke arah bangunan. Ketegangan meningkat hingga ratusan orang terlibat bentrokan dengan aparat keamanan sampai tengah malam.
Investigasi dan Keterlibatan Brigade Azov
Kepala Staf Ukraina Kyrylo Budanov menyatakan bahwa tiga hari sebelum kejadian, Moloda bersama sopirnya telah melakukan pengintaian di rumah tersebut. Budanov, yang tiba di lokasi sekitar enam jam setelah siaran langsung dimulai, menjelaskan bahwa rumah di Jalan Solnichna itu digunakan oleh Brigade Azov.
Kelompok Azov menyatakan bahwa pria-pria yang ditangkap karena mangkir ditempatkan di rumah tersebut. Komandan Azov, Denys Prokopenko, menyebut skandal itu sebagai bentuk sabotase di garis belakang yang mendiskreditkan prajurit Ukraina dan menguntungkan pihak Rusia.
Setelah kedatangan Budanov, empat pria diizinkan keluar dari rumah menuju bus, termasuk seseorang yang sebelumnya diklaim Moloda mengalami patah tulang belakang dan tidak dapat bergerak. Kendati demikian, kerumunan massa yang marah tetap menghalangi bus tersebut untuk pergi.
Keterangan Warga dan Proses Hukum
Penduduk setempat yang ditemui Al Jazeera menyebut insiden tersebut sebagai sebuah provokasi. Sejumlah warga menyayangkan tindakan tersebut dan menilai masyarakat teperdaya oleh klaim perempuan itu.
Pihak berwenang kemudian menangkap Moloda, yang kini ditahan selama 60 hari tanpa jaminan. Jaksa penuntut menemukan bukti bahwa Moloda setidaknya pernah sekali menjalankan layanan penyelamatan sebagai paramedis palsu dengan bayaran 107.000 hryvnia atau sekitar 2.355 dolar Amerika Serikat.
Menurut perwira senior Azov, Pavlo Kurchenko, kerabat dari seorang desertir bernama Andriy Kuleshov diduga menyewa Moloda senilai sekitar 7.000 dolar Amerika Serikat untuk mengeluarkan Kuleshov dari rumah tersebut. Kuleshov sendiri tercatat dalam basis data Myrotvorets akibat beberapa kali melintas ke wilayah separatis di tenggara Ukraina tempat saudaranya tinggal.
Kepala lembaga think tank Penta yang berbasis di Kyiv, Volodymyr Fesenko, menyatakan kepada Al Jazeera bahwa Moloda berniat menciptakan skandal politik dan diduga memiliki keterkaitan dengan intelijen Rusia. Rusia dan sejumlah pihak pro-Rusia lantas memanfaatkan insiden tersebut untuk memperkuat narasi mereka mengenai penindasan dan kelompok neo-Nazisme di Ukraina.
Konteks Wajib Militer dan Korupsi di Ukraina
Invasi militer skala penuh Rusia pada 2022 sempat memicu gelombang relawan untuk bergabung dengan militer Ukraina. Namun, tingginya korban jiwa serta laporan mengenai perencanaan yang buruk, korupsi, dan kekerasan oleh petugas membuat jumlah relawan merosot tajam.
Sejak 2023, petugas wajib militer kerap menyisir tempat publik untuk mencari warga yang menghindari mobilisasi, seringkali menggunakan taktik intimidasi, pemukulan, dan penyiksaan. Petugas berdalih cara tersebut merupakan satu-satunya jalan untuk mengerahkan puluhan ribu pria yang dibutuhkan di garis depan.
Kekerasan ini turut memicu praktik korupsi di mana puluhan petugas wajib militer telah ditangkap karena menerima suap hingga puluhan ribu dolar. Sejumlah warga yang menghindari wajib militer memilih menggunakan jalur suap untuk mendapatkan pengecualian medis palsu, melarikan diri ke luar negeri, atau memanfaatkan jasa ambulans palsu untuk melewati perbatasan.





