PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk membukukan pertumbuhan pendapatan konsolidasi sebesar 13,2 persen menjadi US$ 2,71 miliar atau setara Rp 49,24 triliun dengan kurs Rp 18.172 per dolar AS pada kuartal III-2026. Capaian positif tersebut diraih di tengah tekanan biaya bahan bakar yang melanda industri penerbangan.
Rincian Kinerja Pendapatan dan Beban
Berdasarkan lini bisnis, penerbangan berjadwal menyumbang pendapatan sekitar US$ 233,2 juta atau Rp 4,23 triliun yang menunjukkan pertumbuhan 12,6 persen. Sementara itu, pendapatan penerbangan non-berjadwal naik 2,1 persen menjadi US$ 6,3 juta atau sekitar Rp 114,48 miliar.
Di luar sektor penerbangan, lini usaha non-penerbangan mencatatkan lonjakan pertumbuhan sebesar 31,3 persen menjadi US$ 322,8 juta atau sekitar Rp 5,86 triliun. Peningkatan ini ditopang oleh kenaikan pendapatan pemeliharaan pesawat dari pelanggan eksternal GMF AeroAsia sebesar 42,4 persen serta lonjakan pendapatan layanan agen perjalanan sebesar 76,1 persen.
Di sisi lain, beban bahan bakar Garuda mengalami lonjakan 42,9 persen secara tahunan hingga mencapai US$ 309,8 juta atau sekitar Rp 5,63 triliun. Kondisi ini memicu kenaikan total beban operasional sebesar 15,7 persen. Kendati demikian, pertumbuhan beban operasional di luar bahan bakar berhasil ditekan pada kisaran 3,1 persen, lebih rendah daripada pertumbuhan pendapatan.
Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Oentoro menyatakan dalam keterangan tertulis pada Kamis, 29 Oktober 2026, bahwa peningkatan pendapatan non-penerbangan mencerminkan potensi pengembangan kapabilitas serta sinergi antarentitas usaha. Upaya ini dioptimalkan sebagai bagian dari transformasi untuk memperkuat ketahanan bisnis dan mendukung pemulihan keuangan secara berkelanjutan.
“Keberlanjutan pertumbuhan Garuda Indonesia memerlukan fondasi bisnis penerbangan yang semakin kuat, sekaligus kontribusi yang lebih besar dari seluruh ekosistem usaha Grup,” ujar Thomas seperti dilaporkan detikcom.
Penambahan Armada dan Operasional
Hingga September 2026, Grup Garuda Indonesia mengoperasikan 106 pesawat yang terdiri atas 64 armada Garuda Indonesia dan 42 armada Citilink. Jumlah tersebut bertambah 24 pesawat apabila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan 82 pesawat.
Penambahan jumlah armada ini mendongkrak volume penumpang Grup menjadi 16,7 juta orang selama sembilan bulan pertama 2026, naik dari 15,6 juta penumpang pada periode yang sama tahun lalu. Secara rinci, Garuda Indonesia melayani sekitar 7,7 juta penumpang, sedangkan Citilink membawa sekitar 8,9 juta penumpang.
Seiring dengan pertumbuhan tersebut, frekuensi penerbangan Grup meningkat 7,9 persen secara tahunan menjadi 117.868 penerbangan dari sebelumnya 109.259 penerbangan. Tingkat ketepatan waktu penerbangan atau on-time performance (OTP) Grup juga mengalami peningkatan sebesar 5,86 poin persentase menjadi 92,01 persen dari catatan tahun sebelumnya di angka 86,15 persen.
“Pemulihan ketersediaan armada merupakan bagian penting dari transformasi kami. Namun, penambahan kapasitas saja tidak cukup. Setiap pesawat perlu dioperasikan secara lebih produktif, setiap rute harus dapat berkontribusi terhadap jaringan penerbangan yang semakin efisien, dan pelanggan perlu merasakan perbaikan nyata dalam keandalan serta kualitas layanan. Inilah yang terus kami dorong agar kemajuan operasional dapat memberikan nilai tambah yang lebih optimal bagi bisnis maupun pelanggan,” tutur Thomas.
Sumber: Finance - Detikcom





