Teknologi

Saham Google Anjlok Akibat Fitural AI Kurang Hasilkan Uang

Saham Google Anjlok Akibat Fitural AI Kurang Hasilkan Uang
Daftar Isi
  1. Pertumbuhan Pendapatan dan Tantangan AI Mode
  2. Belanja Modal Jumbo dan Laba Bersih
  3. Kinerja Bisnis Cloud dan Prospek AI

Harga saham induk usaha Google, Alphabet, anjlok hampir 10 persen pada perdagangan Rabu (28/10) waktu setempat. Kejatuhan ini terjadi setelah raksasa mesin pencari tersebut mengakui bahwa fitur pencarian berbasis kecerdasan buatan atau AI miliknya justru menghasilkan uang lebih sedikit dibanding iklan pada mesin pencari konvensional.

Pertumbuhan Pendapatan dan Tantangan AI Mode

Dalam laporan keuangan kuartal III 2026, Alphabet mencatatkan lonjakan volume pencarian tertinggi dalam lima tahun terakhir berkat adopsi fitur ‘AI Mode’, yang merupakan sistem pencarian terbaru berbasis Large Language Model milik Google. Pendapatan Google dari lini bisnis pencarian secara nominal naik 12 persen secara tahunan menjadi US$63,25 miliar, namun pertumbuhan tersebut melambat dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencatatkan kenaikan 14,5 persen.

Chief Business Officer Alphabet, Philipp Schindler, menjelaskan bahwa perlambatan itu dipicu oleh tingkat monetisasi yang rendah pada fitur AI Mode. Schindler mengatakan kepada Reuters bahwa banyak pencarian di AI Mode merupakan kueri corong atas yang memungkinkan penangkapan niat komersial bernilai tinggi, serta mayoritas kueri bersifat inkremental yang akan membuka lebih banyak peluang monetisasi seiring berjalannya waktu untuk menenangkan investor.

Sebagai langkah konkret, Google resmi mengaktifkan fitur iklan di samping hasil pencarian AI Mode secara global setelah sebelumnya hanya diuji coba di pasar AS. Saat ini, mesin pencari konvensional masih menjadi tulang punggung dengan menyumbang nyaris separuh dari total pendapatan kuartalan Alphabet yang mencapai US$125,8 miliar.

Belanja Modal Jumbo dan Laba Bersih

Rendahnya monetisasi AI menjadi alarm bagi investor mengingat Alphabet tengah jor-joran membangun infrastruktur, di mana sepanjang kuartal III 2026 saja perusahaan telah membakar dana belanja modal sebesar US$51,4 miliar. Dua pertiga dari dana tersebut dialokasikan untuk pembelian server dan perangkat jaringan, sementara sisanya digunakan untuk pembangunan pusat data.

Tingginya pembengkakan biaya operasional ini langsung menggerogoti profitabilitas perusahaan, membuat laba bersih Alphabet pada kuartal III 2026 merosot menjadi US$26,17 miliar. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, Alphabet mampu mengantongi laba bersih US$35 miliar dari total pendapatan US$102,35 miliar.

Kinerja Bisnis Cloud dan Prospek AI

Di sisi lain, lini bisnis Google Cloud membukukan pendapatan US$24,75 miliar dan menjadi kontributor terbesar kedua, meski sektor tersebut kini dibelit masalah keterbatasan kapasitas untuk melayani seluruh kliennya. Akibatnya, Google terpaksa mengalihkan sebagian beban kerja ke pihak ketiga yang diproyeksi bakal mengikis margin perusahaan di masa depan.

CEO Google Cloud, Thomas Kurian, menyatakan bahwa lebih dari 100 perusahaan telah mengadopsi chip TPU rancangan Google serta memastikan seluruh pasokan TPU sudah terikat kontrak penuh dan siap mendatangkan aliran pendapatan baru dalam beberapa kuartal mendatang. Sementara itu, CEO Alphabet Sundar Pichai tetap optimistis terhadap prospek monetisasi AI dengan menyoroti aplikasi Gemini yang telah menembus 1 miliar pengguna sebagai rekor pertumbuhan tercepat dalam sejarah perusahaan.

Google juga tengah mempercepat pengembangan alat AI berbasis agen yang ditargetkan untuk sektor korporasi sebelum nantinya diintegrasikan ke Google Search. Alphabet mempertahankan target belanja modal tahun ini di kisaran US$195 miliar hingga US$205 miliar serta memberikan sinyal akan mengucurkan belanja modal yang jauh lebih besar pada 2027 mendatang.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *