Teknologi

Ukraina Gandeng Nokia dan ICEYE Demi Lepas dari Starlink

Ukraina Gandeng Nokia dan ICEYE Demi Lepas dari Starlink
Daftar Isi
  1. Kemitraan Pertahanan dan Satelit Baru
  2. Tantangan Besar Menyaingi Skala SpaceX
  3. Dugaan Pembatasan Layanan dan Respons Politik
  4. Upaya Global Mencari Alternatif

Pemerintah Ukraina mulai mencari alternatif layanan internet satelit setelah SpaceX membatasi penggunaan Starlink dan Starshield di wilayah konflik tersebut, yang mengakibatkan pesawat tanpa awak atau drone berkecepatan tinggi terputus koneksinya dan jatuh dari udara.

Kemitraan Pertahanan dan Satelit Baru

Kementerian Pertahanan Ukraina mengumumkan pada Kamis bahwa mereka telah meneken surat pernyataan kehendak guna mengembangkan kapabilitas komunikasi pertahanan dan satelit yang baru bersama perusahaan teknologi asal Finlandia, Nokia, serta produsen satelit ICEYE.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan dalam keterangan resminya bahwa peperangan modern telah membuktikan bahwa komunikasi yang andal merupakan persoalan keamanan nasional. Ia menambahkan bahwa mereka harus mengandalkan kapabilitas yang dapat dikontrol sendiri.

Selain itu, Zelenskyy juga mengumumkan kemitraan dengan Norwegia pekan ini untuk bersama-sama mengembangkan sistem pertahanan udara dan komunikasi yang berpotensi menjadi pengganti Starshield.

Tantangan Besar Menyaingi Skala SpaceX

Pendiri sekaligus CEO perusahaan modal ventura Space Capital, Chad Anderson, menilai bahwa alternatif semacam itu membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun dan menyamai skala Starlink adalah jalan yang panjang. Berdasarkan data astronom Jonathan McDowell, SpaceX saat ini mengoperasikan sekitar 11.000 satelit di orbit.

Anderson menyebutkan bahwa layanan Starshield akan lebih sulit lagi untuk digantikan. Dokumen kontrak Pentagon sendiri menyatakan bahwa SpaceX adalah satu-satunya penyedia yang dapat memenuhi sebagian kebutuhan mereka hingga 2026, di mana hambatan utamanya kini bukan lagi modal melainkan peluncuran. Bahkan para pesaing Starlink selama ini tetap mengandalkan peluncuran dari SpaceX untuk menempatkan satelit mereka ke orbit.

Dugaan Pembatasan Layanan dan Respons Politik

Pejabat Ukraina melaporkan bahwa negara tersebut masih mengalami pembatasan Starlink yang memutus konektivitas drone atau pesawat lain yang melaju dengan kecepatan di atas 100 mil per jam. Baik pemerintahan Presiden AS Donald Trump maupun CEO SpaceX Elon Musk sama-sama menghindari tanggung jawab atas perubahan layanan tanpa pemberitahuan tersebut.

Presiden Donald Trump mengungkapkan kepada para wartawan di Gedung Putih pada Jumat bahwa dirinya akan meminta Musk untuk mencabut pembatasan tersebut. Sementara itu, eksekutif SpaceX tidak memberikan tanggapan saat dimintai komentar.

Anggota parlemen Amerika Serikat dari kedua partai politik mendesak dilakukannya penyelidikan formal terhadap Musk dan SpaceX terkait dugaan perubahan sepihak pada layanan mereka di Ukraina. Peristiwa ini dinilai oleh Senior Fellow di Brookings sekaligus guru besar di George Washington University, Jay Shambaugh, sebagai bagian dari pola di mana Amerika Serikat bertindak sebagai sekutu yang tidak dapat diandalkan sejak Trump kembali menjabat.

Upaya Global Mencari Alternatif

Sejumlah alternatif Starlink memang sedang dipersiapkan di masa depan, seperti proyek Leo milik Amazon, Eutelsat asal Prancis, serta layanan dari Blue Origin milik Jeff Bezos yang dinamai TeraWave namun belum meluncurkan satelit pertamanya. Sejumlah negara di luar Ukraina juga mulai merintis sistem komunikasi satelit berdaulat, termasuk Uni Eropa yang sedang membangun konstelasi ratusan satelit bernama IRIS² dengan target peluncuran pertama baru terlaksana pada 2029.

Berdasarkan riset dari firma Space Capital, sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, para investor ventura dan ekuitas swasta telah menggelontorkan sekitar 8 miliar dolar AS untuk alternatif Starlink dan Starshield, di mana sekitar 3,9 miliar dolar AS dialirkan kepada calon pesaing seperti Spacesail dan China SatNet.

Analis kebijakan pertahanan senior di Project on Government Oversight, Virginia Burger, menuturkan kepada CNBC dalam sebuah wawancara bahwa persoalan saat ini adalah ketiadaan pengganti instan untuk Starlink, padahal pertempuran di medan perang kini semakin beralih ke sistem nirawak, perang drone, dan sistem lain yang menuntut internet berkecepatan tinggi.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *