Volvo Cars mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 2.500 karyawan setelah penurunan tajam di pasar Tiongkok menekan pendapatan kuartal ketiga. Pengumuman ini memicu kejatuhan harga saham produsen otomotif asal Swedia tersebut hingga sekitar 27 persen.
Penurunan Kinerja Keuangan dan Tekanan Pasar
Perusahaan mencatatkan kerugian operasional sebesar 5,6 miliar krona Swedia (sekitar 563,7 juta dolar AS) pada kuartal ketiga. Hasil ini berbalik dari periode sebelumnya, ketika perusahaan membukukan laba operasional sebesar 6,4 miliar krona Swedia.
Volvo Cars, yang kini dimiliki oleh Geely Holding asal Tiongkok, menyatakan bahwa perburukan lingkungan bisnis dipicu oleh kondisi pasar yang semakin berat di Tiongkok dan Amerika Serikat. Kondisi tersebut berdampak negatif terhadap arus kas bebas perusahaan.
Perubahan Strategi di Pasar Tiongkok
Chief Executive Officer (CEO) Volvo Cars, Håkan Samuelsson, menjelaskan kepada CNBC pada acara “Squawk Box Europe” bahwa perubahan di pasar Tiongkok terjadi jauh lebih cepat dari perkiraan perusahaan. Ia menilai strategi menjual kendaraan global yang dikembangkan di Eropa dan Tiongkok tidak lagi berjalan efektif, situasi yang turut menekan para produsen Barat lainnya di wilayah tersebut.
Samuelsson menambahkan bahwa konsumen di Tiongkok kini lebih memilih alternatif merek domestik yang kian kuat dan kompetitif. Untuk merespons dinamika ini, Volvo Cars berencana menerapkan strategi baru melalui struktur regional yang lebih mandiri serta menghadirkan lini kendaraan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar lokal.
Sumber: US Top News and Analysis


