Dunia

Perang Iran-AS Picu Lonjakan Pencemaran Minyak di Teluk Persia

Perang Iran-AS Picu Lonjakan Pencemaran Minyak di Teluk Persia
Daftar Isi
  1. Dampak Serangan Terhadap Jalur Air
  2. Karakteristik Perairan dan Risiko Krisis Air
  3. Ancaman Bagi Ekosistem Satwa Laut

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat meninggalkan dampak buruk bagi lingkungan setelah sebuah studi mengungkap terjadinya lonjakan pencemaran minyak di Teluk Persia hingga dua kali lipat. Ledakan bom serta rudal selama perang melepaskan bahan kimia berbahaya dan logam berat, sementara serangan terhadap fasilitas minyak memicu kebakaran dan tumpahan yang terlihat jelas dari luar angkasa seperti dilaporkan CNN Indonesia.

Dampak Serangan Terhadap Jalur Air

Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan Uni Emirat Arab menyatakan bahwa tumpahan minyak terpantau berasal dari kapal tanker di Emirat Umm Al Quwain, meski belum dipastikan kaitannya dengan serangan Iran. Selat Hormuz yang menjadi rute vital pengiriman minyak dan gas selama berbulan-bulan menjadi sasaran kapal kargo serta kapal tanker.

Brian Barnes selaku anggota kelompok ahli oseanografi satelit di University of South Florida menuturkan bahwa benturan kapal meninggalkan jejak tumpahan sepanjang ratusan kilometer. Berdasarkan perbandingan riset dengan periode yang sama tahun lalu, pencemaran minyak di kawasan tersebut meningkat hingga dua kali lipat dari perkiraan jika konflik tidak terjadi, kendati citra satelit belum dapat mengukur ketebalan minyak secara pasti.

Karakteristik Perairan dan Risiko Krisis Air

Kondisi geografis Teluk Persia yang dangkal dengan kedalaman maksimum sekitar 110 meter dan luas 241.000 kilometer persegi memperparah situasi ini. Perairan tersebut hanya memiliki satu jalur keluar masuk melalui Selat Hormuz, membuat polutan sulit tersebar atau terencerkan.

Bernhard Riegl selaku profesor di Nova Southeastern University mengingatkan bahwa dampak pencemaran akan meluas ke seluruh kawasan seiring pergerakan arus air. Riegl menambahkan, Perang Teluk tahun 1991 menunjukkan sisa minyak masih mengendap di dalam pasir Arab Saudi hingga saat ini.

Ia juga mengkhawatirkan ancaman terhadap fasilitas desalinasi yang mengubah air laut menjadi air minum bagi puluhan juta penduduk di negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk.

Ancaman Bagi Ekosistem Satwa Laut

Kerusakan lingkungan di Teluk Persia turut mengganggu pemahaman ilmuwan mengenai dampak perubahan iklim global karena kawasan tersebut mencerminkan kondisi tropis laut pada tahun 2100. Keterbatasan akses fisik membuat dampak terhadap satwa laut sulit dipantau secara langsung.

Teluk Persia merupakan habitat bagi berbagai spesies termasuk penyu, ratusan jenis ikan, populasi dugong terbesar kedua di dunia, serta kumpulan hiu paus dekat ladang minyak South Pars. Waktu perang yang bertepatan dengan musim berkembang biak menambah kerentanan ekosistem yang didukung oleh hamparan padang lamun dan terumbu karang.

Razan Khalifa Al Mubarak selaku Utusan khusus UEA dari Menteri Luar Negeri untuk urusan alam menyampaikan seruan penghentian serangan di kawasan tersebut melalui sebuah tulisan opini. “Meski biaya finansial akibat kerusakan dapat dihitung, hilangnya ekosistem dan spesies tidak dapat diukur dengan cara yang sama. Setelah mengalami kerusakan, sistem-sistem ini mungkin tidak akan pulih,” tulisnya.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *