Walmart, perusahaan swasta terbesar di dunia, melakukan survei terhadap 2,1 juta karyawannya pada Juni lalu untuk mengetahui pandangan mereka mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI di lingkungan kerja. Berdasarkan lebih dari 1,7 juta tanggapan, perusahaan menemukan bahwa pelatihan serta pengalaman langsung berperan besar dalam membentuk kenyamanan dan tingkat kebiasaan karyawan terhadap teknologi tersebut.
Antusiasme Karyawan Kantor dan Garis Depan
Maren Waggoner selaku Chief People Officer for Associate Experience and Digital Walmart menyampaikan kepada Leslie Picker dari CNBC dalam ajang 2026 CNBC Workforce Executive Council Summit di New York City bahwa sebanyak 77 persen karyawan kantor Walmart menyatakan antusias terhadap potensi AI dalam meningkatkan kinerja mereka. Sementara itu, untuk para karyawan lini depan di Amerika Serikat, sebanyak 84 persen mengaku percaya diri dalam menggunakan perangkat digital.
Tingginya kepercayaan diri tersebut merupakan cerminan dari perangkat berbasis AI yang kini banyak digunakan oleh para karyawan dalam menjalankan tugas sehari-hari. Menurut Waggoner, perusahaan telah memberikan sertifikasi, program pelatihan, serta berbagai perangkat kerja sehingga para pekerja dapat memanfaatkannya secara langsung dalam rutinitas harian mereka.
Program Pelatihan Tanpa Biaya dan Perbandingan Tren
Selama 13 bulan terakhir, Walmart menjalin kerja sama dengan Google serta OpenAI untuk menghadirkan program pembelajaran dan sertifikasi AI bagi para karyawan tanpa dipungut biaya. Waggoner menyatakan bahwa para pekerja yang telah mengikuti pelatihan dari OpenAI mengalami peningkatan kepercayaan diri sebesar 27 persen dalam menggunakan teknologi AI.
Capaian tersebut membantu Walmart melawan tren nasional yang lebih luas terkait pandangan terhadap AI di Amerika Serikat. Berdasarkan jajak pendapat dari Pew Research Center pada Agustus 2026, sekitar 52 persen orang dewasa di AS justru merasa lebih khawatir daripada antusias terhadap kehadiran AI.
Waggoner menyimpulkan bahwa penyediaan perangkat kerja dan pelatihan yang memadai terbukti mampu membuat para karyawan merasa jauh lebih percaya diri dalam menghadapi teknologi baru.
Sumber: US Top News and Analysis






