Internasional

Pemilu Perdana Israel Sejak Serangan Hamas: Hal yang Perlu Diketahui

Pemilu Perdana Israel Sejak Serangan Hamas: Hal yang Perlu Diketahui
Daftar Isi
  1. Kompleksitas Perolehan Kursi Parlemen
  2. Partai yang Berkompetisi
  3. Isu Domestik dan Internasional

Israel menggelar pemilihan umum parlemen pada Selasa (27/10). Ini merupakan pemilu pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang mengguncang negara itu dan meletuskan perang di Timur Tengah.

Pemilu ini akan menentukan arah pemerintahan Israel di tengah keterlibatan Tel Aviv dalam berbagai konflik, kritik internasional, serta polarisasi yang semakin dalam di dalam negeri. Pemungutan suara dimulai pukul 07.00 pagi dan berakhir pukul 22.00 waktu setempat, dengan saluran TV Israel yang akan menayangkan hasil pemungutan suara beberapa jam kemudian meskipun hasil pastinya bisa memakan waktu beberapa hari atau minggu.

Kompleksitas Perolehan Kursi Parlemen

Hasil jajak pendapat menunjukkan ada belasan partai yang berpeluang melewati ambang batas 3,25 persen untuk masuk ke parlemen. Sementara itu, untuk membentuk pemerintahan, diperlukan dukungan 61 kursi dari total 120 kursi Knesset.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan belum ada satu pun koalisi yang bisa mengamankan mayoritas parlemen ini. KAN memproyeksi aliansi oposisi akan memenangkan 52 dari 120 kursi Knesset, sedangkan blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu diperkirakan mengamankan 50 kursi, sementara sisa kursi akan diduduki partai-partai independen termasuk partai koalisi Arab yang sama-sama dihindari oleh blok Netanyahu maupun blok oposisi.

Kondisi yang terpecah-pecah ini membuat Israel berpotensi menghadapi situasi sulit untuk membentuk mayoritas pemerintahan. Kegagalan negosiasi pascapemilu dapat berujung pada pemerintahan minoritas yang bergantung pada dukungan partai di luar koalisi atau memicu putaran pemilu berikutnya.

Partai yang Berkompetisi

Persaingan perebutan pemerintahan berikutnya melibatkan dua blok utama. Koalisi Netanyahu terdiri dari Partai Likud pimpinannya serta beberapa partai sayap kanan dan ultra-Ortodoks, yakni United Torah Judaism (UTJ), Shas, Otzma Yehudi yang dipimpin Itamar Ben Gvir, dan Religious Zionism-Zehut yang dipimpin Bezalel Smotrich.

Sementara itu, koalisi oposisi terdiri dari Partai Yashar pimpinan Gadi Eisenkot, Partai Demokrat pimpinan Yair Golan, Yisrael Beiteinu pimpinan Avigdor Lieberman, serta aliansi Together pimpinan Naftali Bennett yang juga diikuti pemimpin oposisi Knesset Yair Lapid.

Isu Domestik dan Internasional

Warga Israel saat ini dihadapkan pada serangkaian krisis domestik dan internasional. Di dalam negeri, terdapat tuntutan pertanggungjawaban pemerintah atas kegagalan mencegah serangan Hamas 7 Oktober 2023, kemarahan atas pengecualian wajib militer bagi kaum ultra-Ortodoks, kekhawatiran terhadap reformasi peradilan dorongan Netanyahu yang dinilai merusak demokrasi liberal, serta kelelahan masyarakat terhadap perang meski tak menginginkan Palestina merdeka.

Di kancah internasional, reputasi Israel merosot akibat agresi di Gaza, yang terlihat saat puluhan delegasi dunia meninggalkan ruangan dan mencemooh pidato Netanyahu pada Sidang Majelis Umum PBB tanggal 24 September lalu.

Hasil pemungutan suara ini akan menentukan apakah pemerintahan baru Israel akan mempertahankan pendekatan Netanyahu terhadap komunitas global atau berupaya memperbaiki hubungan. Netanyahu sendiri berupaya mengamankan masa jabatan setelah memegang posisi perdana menteri selama lebih dari 18 tahun dalam tiga periode terpisah, di tengah proses sidang kasus korupsi dan buronan Mahkamah Pidana Internasional akibat kejahatan perang serta kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *