Daftar Isi
Parlemen Mesir telah memberikan wewenang kepada Presiden Abdel Fattah el-Sisi untuk memberikan dukungan militer kepada Arab Saudi. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya serangan dari kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman.
Mandat Parlemen untuk Dukungan Keamanan
Dewan Perwakilan Rakyat Mesir, yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Hisham Badawi, menyetujui mandat tersebut dalam pemungutan suara yang berlangsung pada Senin (15/10). Berdasarkan pernyataan parlemen yang dibagikan kepada Reuters, Presiden el-Sisi diberi wewenang untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mendukung Arab Saudi dalam mempertahankan diri, apabila Riyadh mengajukan permintaan bantuan.
Keputusan ini membuka kemungkinan keterlibatan Mesir yang lebih langsung dalam konflik yang telah melanda kawasan Teluk dan Laut Merah dalam beberapa pekan terakhir. Nawaf Obaid, seorang peneliti senior tamu di King’s College London, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa para pejabat Arab Saudi menginginkan jaminan bahwa Mesir akan mendukung kerajaan tersebut jika diminta. Menurutnya, pemungutan suara ini merupakan cara Kairo untuk menyatakan komitmennya, meskipun rincian mengenai bentuk bantuan yang akan diberikan masih menjadi pertanyaan.
Konteks Konflik dan Keamanan Laut Merah
Langkah ini menyusul serangkaian serangan Houthi terhadap bandara internasional Riyadh dan fasilitas milik perusahaan minyak negara Arab Saudi, Aramco. Serangan tersebut telah menyebabkan gangguan pada jadwal penerbangan serta ekspor minyak. Kelompok bersenjata Houthi, yang menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, saat ini tengah bertempur melawan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Presiden el-Sisi menegaskan pada Rabu (17/10) bahwa setiap tindakan militer Mesir akan dibatasi hanya untuk melindungi wilayah dan perbatasan Arab Saudi, bukan untuk meluncurkan serangan ke dalam Yaman. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty menyatakan setelah kunjungannya ke Riyadh bahwa Kairo tetap mengutamakan penyelesaian diplomatik.
Mesir sendiri memiliki kepentingan langsung dalam keamanan Laut Merah. Serangan Houthi di dekat selat Bab al-Mandeb, yang merupakan jalur utama menuju dan dari Terusan Suez, telah mengganggu pelayaran dan menurunkan pendapatan kanal tersebut. Sesuai konstitusi Mesir, pengiriman pasukan ke luar negeri untuk misi tempur memerlukan persetujuan dua pertiga anggota legislatif. Sebelumnya, Mesir pernah bergabung dalam kampanye pimpinan Arab Saudi di Yaman pada tahun 2015, dengan fokus utama membantu mengamankan jalur pelayaran melalui kekuatan angkatan laut.
Upaya Diplomasi Regional
Selain membahas bantuan militer, Presiden el-Sisi juga mengadakan pertemuan dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres di Kairo pada Senin (15/10). Pertemuan tersebut membahas ketegangan regional dan upaya perdamaian.
Pihak kepresidenan Mesir menyebutkan bahwa Guterres memuji upaya Kairo dalam mencegah eskalasi di kawasan Teluk. Guterres menyatakan bahwa diplomasi dapat membantu mengatasi perselisihan terkait program nuklir Iran dan keamanan pelayaran. Melalui unggahan di platform X pada hari yang sama, Guterres mendesak semua pihak untuk menahan diri secara maksimal dan memperingatkan bahwa pertempuran lebih lanjut dapat lepas kendali.






