Teknologi

Mengapa Matahari Bisa Menyala Terus Selama 4,6 Miliar Tahun?

Mengapa Matahari Bisa Menyala Terus Selama 4,6 Miliar Tahun?

Jakarta, CNBC Indonesia – Selama kurang lebih 4,6 miliar tahun, Matahari telah menjadi pusat tata surya yang menjaga stabilitas orbit planet-planet sekaligus memancarkan energi untuk kehidupan di Bumi. Bintang raksasa ini terus bersinar terang tanpa henti, meskipun sebenarnya tidak terbakar seperti api yang dikenal di Bumi.

Reaktor Plasma di Jantung Tata Surya

Menurut peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rasdewita Kesumaningrum, memahami karakteristik Matahari adalah kebutuhan strategis karena dinamika pusat tata surya ini berdampak langsung terhadap ekosistem global. Rasdewita menjelaskan bahwa Matahari berfungsi sebagai energi terbarukan serta memengaruhi iklim lewat pengaturan suhu Bumi, sirkulasi atmosfer dan samudra, serta pola cuaca jangka panjang, seperti disampaikannya dalam Pelatihan Dasar Space Situational Awareness, Selasa lalu dikutip Sabtu (24/10/2026).

Umur panjang Matahari bermula dari wujud dan komposisinya sebagai bola gas atau plasma, bukan benda padat. Suhu dan tekanan ekstrem di dalamnya melucuti elektron dari atom-atom netral sehingga menyisakan lautan ion serta elektron bebas. Sekitar 73 hingga 74 persen massa Matahari didominasi unsur Hidrogen yang menjadi bahan bakar utama, sedangkan 24 hingga 25 persen sisanya adalah gas Helium hasil pembakaran kosmik.

Kandungan bahan bakar tersebut diketahui melalui pengamatan spektrum cahaya yang dipancarkan bintang tersebut. Garis spektrum itu menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang lebih berat seperti oksigen, karbon, besi, nitrogen, hingga silikon yang menyusun 1 hingga 2 persen dari total massa Matahari.

Energi Matahari digerakkan oleh proses di lapisan Inti dengan suhu mencapai 15 juta derajat Celcius. Di ruang pusat ini, gaya gravitasi menarik plasma ke dalam sementara ledakan fusi mendorong tekanannya ke luar. Empat atom hidrogen dipaksa berbenturan dan melebur menjadi satu atom helium dalam reaksi fusi nuklir.

Peleburan tersebut menghasilkan selisih massa sebesar 0,029 unit yang berubah menjadi energi murni dan partikel neutrino. Rantai fusi nuklir yang ditopang cadangan hidrogen melimpah inilah yang membuat Matahari mampu menyala stabil selama 4,6 miliar tahun.

Energi tersebut harus menembus Zona Radiatif yang padat selama jutaan tahun sebelum menumpang arus plasma panas di Zona Konvektif menuju Fotosfer. Setibanya di Fotosfer dengan suhu 5.500 derajat Celcius, energi ini dilepaskan ke tata surya sebagai cahaya tampak dan radiasi panas.

Diperkirakan Terus Menyala Miliaran Tahun Ke Depan

Matahari diperkirakan akan terus menyala hingga miliaran tahun ke depan berkat skala massanya yang masif dan keseimbangan gaya fisika. Dengan massa sekitar 333.000 kali lipat Bumi, Matahari memiliki pasokan hidrogen di inti yang sangat besar.

Tekanan dari ledakan energi inti mendorong plasma ke arah luar, sementara gaya gravitasi ekstrem menekan bola plasma ke arah dalam. Pertarungan antara tekanan fusi dan tarikan gravitasi ini menciptakan keseimbangan dinamis yang mencegah Matahari meledak atau runtuh ke dalam.

Rasidewita menambahkan bahwa pemahaman struktur Matahari adalah dasar penting untuk mengetahui asal aktivitas Matahari guna mendukung pemantauan cuaca antariksa. Pengetahuan tersebut diharapkan menjadi fondasi untuk membangun konsep pemahaman yang sama antara personel operasional, pengamat Matahari, dan analis cuaca antariksa.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *