Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mendorong industri pengolahan susu nasional untuk meningkatkan diversifikasi produk, memperkuat bahan baku lokal, serta mengoptimalkan kapasitas produksi guna mendongkrak perekonomian nasional. Dorongan tersebut disampaikan Sarmuji saat melakukan kunjungan kerja ke pabrik PT Cisarua Mountain Dairy Tbk atau Cimory yang berlokasi di Sentul, Kabupaten Bogor, Jumat (23/10/2026).
Tantangan Produksi Keju Khas Indonesia
Sarmuji menjelaskan bahwa Cimory yang mulanya dikenal sebagai produsen yoghurt kini telah berkembang pesat dengan berbagai produk turunan. Dalam kunjungan tersebut, seperti dilaporkan detikcom, Sarmuji memberikan tantangan kepada pihak manajemen Cimory agar memproduksi lebih banyak varian olahan susu seperti es krim serta keju khas Indonesia dalam kurun waktu satu tahun ke depan.
Menurut Sarmuji, pengembangan produk olahan susu yang disesuaikan dengan selera masyarakat lokal memiliki potensi pasar yang sangat luas. Ia menilai produk keju yang selaras dengan lidah orang Indonesia masih belum banyak dikembangkan sehingga peluang pasarnya terbuka lebar.
Selain diversifikasi, Sarmuji menyoroti pentingnya menggenjot utilisasi industri nasional yang saat ini masih berada di kisaran 70 persen. Ia menyatakan bahwa pemanfaatan kapasitas yang ada dapat ditingkatkan hingga 80 sampai 85 persen untuk memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap produk domestik bruto.
Untuk mencapai target utilisasi tersebut, Kementerian Perindustrian berkomitmen menjaga kelancaran pasokan bahan baku dengan harga yang kompetitif. Pemerintah siap memberikan relaksasi atau kemudahan impor bagi kebutuhan produksi yang belum dapat dipenuhi dari pasokan dalam negeri, meski bahan baku lokal yang sudah ada tetap harus menjadi prioritas utama.
Respons dan Kinerja Industri Pengolahan Susu
Menanggapi arahan pemerintah, Direktur Manufacturing PT Cisarua Mountain Dairy Tbk, Pamungkas Bayu Triprasetyo, menyambut baik tantangan tersebut dan menyatakan bahwa inovasi merupakan bagian dari strategi bisnis perusahaan. Pihaknya akan mengkaji potensi pengembangan berbagai produk turunan susu yang sesuai dengan kebutuhan pasar domestik selain fokus pada produk susu cair.
Terkait pasokan bahan baku, Pamungkas memaparkan bahwa perusahaan saat ini menyerap sekitar 20 hingga 30 persen kebutuhan susu segar dari peternak lokal di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Angka tersebut dinilai sudah maksimal mengingat keterbatasan pasokan susu segar di dalam negeri, sementara sisa kebutuhan lainnya masih ditutupi melalui impor susu bubuk.
Sektor industri makanan dan minuman sendiri tetap menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan manufaktur nasional. Sepanjang semester pertama tahun 2026, subsektor ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,77 persen serta memberikan sumbangsih sebesar 41,86 persen terhadap produk domestik bruto industri pengolahan nonmigas.
Dari catatan investasi, realisasi penanaman modal pada industri makanan dan minuman mencapai Rp47,74 triliun pada semester I tahun 2026. Angka tersebut terbagi atas penanaman modal asing sebesar Rp19,46 triliun serta penanaman modal dalam negeri senilai Rp28,28 triliun.
Sumber: Finance - Detikcom
