Daftar Isi
Mencari pekerjaan masih menjadi tantangan yang dihadapi oleh sebagian masyarakat di tengah persaingan yang ketat. Berbagai kendala mulai dari lamaran yang tidak mendapat respons hingga batasan usia menjadi hambatan tersendiri bagi para pencari kerja.
Kisah Pencari Kerja yang Menganggur Bertahun-tahun
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar bursa kerja yang menyediakan lebih dari 12.000 lowongan pekerjaan. Kegiatan bertajuk Karir Jakarta & Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026 tersebut dipadati oleh para pencari kerja pada Jumat (23/10).
Salah satu pengunjung adalah Suci, perempuan berusia 24 tahun asal Jakarta Barat yang telah menganggur selama enam tahun sejak kelulusannya dari Sekolah Menengah Kejuruan pada 2020. Di tengah upayanya mencari pekerjaan, ia mengaku pernah menjadi korban penipuan lowongan kerja di dua lokasi berbeda hingga mengalami kerugian jutaan rupiah.
“Saya pernah ketipu di dua perusahaan. Pertama di daerah Jakarta Timur bayar Rp 2,5 juta, yang kedua di Cengkareng bayar Rp 1,8 juta. Sudah ingin sekali, apapun syaratannya ingin sekali saya daftar kerja,” kata Suci kepada Finance – Detikcom.
Meskipun sempat tertipu dan lama menganggur, Suci tetap berusaha dengan mengikuti pelatihan di Pusat Pelatihan Kerja Daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan untuk menambah keahlian. Ia berharap perusahaan dapat segera memberikan kesempatan kerja tanpa memberikan harapan palsu.
“Tolong panggil saya, saya sudah capek, sudah lelah, sering diomongin keluarga dan saudara. Ya jangan ghosting intinya. Saya pengin banget kerja, walaupun duitnya itu sekecil apapun,” ujar Suci.
Kendala Usaha Tutup dan Batasan Usia
Perjuangan serupa juga dialami oleh Noven, pria berusia 39 tahun asal Kramat Jati, Jakarta Timur, yang berburu pekerjaan formal di Gedung SMESCO. Noven sebelumnya merupakan pemilik usaha fotokopi, namun usahanya harus tutup akibat pandemi COVID-19 serta peralihan sistem digital di perkantoran dan sekolah.
Kondisi tersebut membuat Noven terpaksa beralih profesi menjadi pengemudi ojek online sambil terus mencari pekerjaan formal selama empat tahun terakhir melalui pengiriman daftar riwayat hidup secara daring dan mengikuti pelatihan kerja.
“Kendala umur sih saya, jadi susah masuk ke syarat perusahaan,” ucap Noven kepada Finance – Detikcom.
Tantangan Penyandang Disabilitas
Acara bursa kerja ini juga diikuti oleh sejumlah penyandang disabilitas yang mengharapkan pekerjaan yang layak, seperti Raka asal Pamulang, Tangerang Selatan, dan Faiz asal Bekasi yang merupakan pencari kerja tuli. Keduanya mengaku kesulitan mendapatkan kejelasan dari perusahaan meskipun memiliki keterampilan teknis.
“Saya sudah pernah datang ke job fair enam kali. Banyak perusahaan yang saya lamar, tapi tidak ada yang memberikan informasi kejelasan. Bahkan ada yang di awal bilang menerima lowongan administrasi, tapi begitu diinfokan kembali, ternyata tidak bisa menerima disabilitas,” tutur Raka kepada Finance – Detikcom.
Faiz menambahkan, dirinya telah mendatangi tiga acara bursa kerja dan melamar ke delapan perusahaan berbeda namun belum mendapatkan panggilan sama sekali. Ia berharap pihak HRD dapat menilai kompetensi nyata para pencari kerja secara adil.
“Semua itu tergantung kemampuan. Harapannya HRD bisa membuktikan dan melihat dulu kemampuan kami. Jika memang punya keahlian, berikanlah kesempatan. Bekerja itu harus dilihat dari kompetensi yang nyata,” tegas Faiz kepada Finance – Detikcom.
Sumber: Finance - Detikcom



