Korea Utara kembali melakukan uji coba rudal balistik taktis yang dilengkapi hulu ledak klaster pada Sabtu. Peluncuran ini menjadi bagian dari rangkaian latihan militer untuk melatih pasukan dalam penggunaan senjata.
Penilaian Kemampuan Tempur Senjata
Menurut pemberitaan kantor berita resmi Korean Central News Agency (KCNA) yang dilansir AFP pada Minggu (1/11/2026), kegiatan tersebut dilaksanakan guna mengukur tingkat adaptasi tempur sekaligus kekuatan hancur hulu ledak bom klaster pada rudal balistik taktis. Pelaksanaan ini menyusul serangkaian pengujian perangkat militer lain yang dimiliki negara tersebut, mulai dari pesawat nirawak serang, torpedo berpemandu presisi baru, hingga rudal hipersonik jarak menengah.
Para pejabat terkait menyebutkan bahwa persenjataan tersebut mempunyai kemampuan untuk meluluhlantakkan wilayah sasaran mencapai 12 hingga 13 hektare dengan tingkat kepadatan hancur yang tinggi. Direktur jenderal Administrasi Rudal Korea Utara menyampaikan bahwa pihaknya akan memastikan seluruh unit militer mampu memilih serta mengaplikasikan ragam senjata itu secara tepat sesuai tujuan operasional dan ciri khas target sepanjang tahun ini.
Berdasarkan catatan situs Arms Control Association, bom klaster merupakan jenis amunisi konvensional yang dibuat untuk menyebarkan submunisi eksplosif hingga ratusan jumlahnya dalam cakupan wilayah yang luas.
Dokumentasi dan Konteks Ketegangan
Dokumentasi foto yang disebarluaskan oleh KCNA memperlihatkan momen peluncuran sebuah proyektil dari peluncur bergerak diiringi semburan api berwarna oranye. Potret lainnya menampilkan bekas dampak serangan bom klaster yang menghantam sasaran di sebuah pulau.
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, tidak tampak mendampingi jalannya pengujian kali ini. Sebelumnya, ia sempat memantau langsung pengujian peluncuran hulu ledak bom klaster pada rudal balistik pada April lalu bersama putrinya, Ju Ae.
Rangkaian uji coba ini berlangsung di tengah memanasnya situasi akibat insiden ledakan ranjau darat pada area perbatasan kedua negara yang dikawal ketat, yang mengakibatkan tiga prajurit Korea Selatan mengalami luka-luka. Menanggapi kejadian tersebut, pihak Korea Utara menolak keterlibatan mereka serta bertekad memperkuat pengamanan perbatasan sekaligus melanjutkan aksi propaganda lewat pengeras suara.
Sumber: News - Detikcom






