Internasional

Jepang dan Inggris Minta Warga Stok Makanan dan Air

Jepang dan Inggris Minta Warga Stok Makanan dan Air

Pemerintah Jepang dan Inggris memperketat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman darurat seperti bencana alam, serangan siber, hingga potensi krisis pangan. Warga di kedua negara tersebut diimbau agar segera menimbun persediaan makanan, air minum, serta berbagai kebutuhan esensial lainnya.

Kesiapsiagaan Darurat di Jepang

Di Jepang, Menteri Penanggulangan Bencana Goshi Hosono menyampaikan bahwa pemerintah segera menerbitkan imbauan resmi kepada seluruh kementerian, pemerintah daerah, dan warga pada 2 November 2026. Berdasarkan laporan CNBC Indonesia yang mengutip Business Today, warga diminta agar mampu bertahan secara mandiri sekurang-kurangnya dalam kurun waktu tiga hari hingga satu pekan.

“Setidaknya untuk tiga hari, dan idealnya satu minggu, bahkan jika tidak ada bantuan dari pihak luar, Anda harus sudah menyiapkan makanan, fasilitas sanitasi, air, dan kebutuhan lainnya di rumah,” ujar Hosono kepada FNN.

Langkah preventif tersebut diambil lantaran Jepang mengantisipasi berbagai ancaman bencana berskala besar. Beberapa di antaranya meliputi potensi gempa bumi megathrust di Palung Nankai, gempa berkekuatan besar di kawasan ibu kota, aktivitas seismik di Palung Kuril serta Palung Jepang, hingga potensi letusan Gunung Fuji.

Program Be Ready di Inggris

Sementara itu, pemerintah Inggris menginisiasi program nasional bertajuk Be Ready untuk mengampanyekan kesiapsiagaan di tingkat rumah tangga. Setiap keluarga didorong agar menyimpan cadangan kebutuhan dasar selama tiga hari guna mengantisipasi gangguan layanan publik seperti pemadaman listrik, terputusnya pasokan air bersih, banjir, hingga kebakaran hutan.

Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting menuturkan bahwa masyarakat perlu mengambil tindakan nyata guna menghadapi segala macam situasi darurat. Penjelasan tersebut disampaikan Streeting kepada BBC Newsnight, seperti dilaporkan CNBC Indonesia.

“Ini menggembirakan karena masyarakat mengambil langkah-langkah praktis untuk bersiap menghadapi keadaan darurat. Memiliki sejumlah kebutuhan sehari-hari di rumah, mulai dari makanan kaleng hingga senter, dapat membantu keluarga menghadapi gangguan, baik akibat banjir, pemadaman listrik, maupun pipa air yang pecah. Kita semua bisa berperan dalam membuat Inggris lebih tangguh,” ucapnya.

Melalui panduan tersebut, warga Inggris dianjurkan menyimpan cadangan air minum sebanyak kira-kira tiga liter per orang per hari. Selain itu, mereka perlu menyiapkan makanan awet seperti buah, daging, dan sayuran dalam bentuk kaleng, serta uang tunai.

Daftar persediaan juga mencakup obat-obatan, kotak pertolongan pertama, senter, baterai cadangan, radio engkol manual, selimut hangat, serta pengisi daya portabel. Masyarakat turut diminta menyediakan kebutuhan khusus seperti makanan hewan peliharaan, popok bayi, susu formula, serta obat-obatan resep yang diperlukan anggota keluarga, yang dikumpulkan secara bertahap dan ditaruh pada lokasi yang mudah dijangkau.

Kampanye kesiapan di Inggris turut dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap eskalasi ancaman keamanan dari pihak Rusia, di mana Streeting mengingatkan negaranya agar bersiap menghadapi kemungkinan perang dalam seribu hari ke depan. Di samping itu, Inggris juga mengantisipasi ancaman terhadap ketahanan pangan akibat gelombang panas serta kekeringan ekstrem yang dikhawatirkan merusak hasil panen nasional dan mendongkrak ketergantungan impor pangan.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *