Internasional

Dampak Kemenangan Demokrat di Parlemen AS terhadap Eropa

Dampak Kemenangan Demokrat di Parlemen AS terhadap Eropa

Pemilu paruh waktu di Amerika Serikat diprediksi memperlihatkan keunggulan bagi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat. Namun, sejumlah analis dan pengamat menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa kemenangan Demokrat dinilai tidak akan membawa perubahan fundamental bagi dinamika politik di Eropa.

Potensi Efek Samping Kemenangan Demokrat

Menurut para pengamat, di luar peningkatan hubungan transatlantik, terdapat dua potensi dampak yang kurang menguntungkan bagi kawasan Eropa jika kubu Demokrat menguasai parlemen. Dampak pertama adalah munculnya rasa puas diri di kalangan warga Eropa terkait pergerakan kelompok sayap kanan di negara mereka sendiri.

Dampak kedua adalah kemungkinan terdorongnya Presiden AS Donald Trump untuk memperkuat tekanan kepada Ukraina agar bersedia mencapai kesepakatan damai dengan Rusia yang tidak mereka inginkan. Catherine Fieschi, seorang sarjana nonresiden di lembaga kajian Carnegie Europe, menilai bahwa kemenangan Demokrat di Kongres akan dibaca sebagai bukti bahwa demokrasi masih bisa pulih.

Fieschi berpendapat dari Paris bahwa situasi tersebut dapat memicu perdebatan mengenai perlu atau tidaknya kekhawatiran berlebih terhadap tokoh politik sayap kanan Prancis, Marine Le Pen. Saat ini, jajak pendapat menunjukkan Le Pen memimpin perolehan suara untuk pemilihan presiden yang dijadwalkan berlangsung pada 18 April dengan dukungan sekitar 34 persen.

Kecenderungan rasa puas diri semacam itu pernah terlihat sebelumnya, seperti dalam jajak pendapat European Council on Foreign Relations (ECFR) pada Juni 2025 yang mencatat pandangan publik Eropa terhadap masa awal pemerintahan Trump. Di sisi lain, Menteri Migrasi Yunani Thanos Plevris mengingatkan agar tidak terlalu mengaitkan pandangan publik Eropa sepenuhnya dengan kebijakan AS.

Plevris menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa pergeseran sikap publik Eropa terhadap migrasi terjadi secara mandiri, meskipun AS memperlihatkan perubahan nada kebijakan melalui tindakan yang lebih tegas dan deterens. Kebijakan perbatasan tersebut dinilai turut berperan dalam mengubah pendekatan negara-negara Eropa setelah sebelumnya sempat mengambil sikap yang lebih terbuka.

Dampak bagi Ukraina dan Pandangan Publik Eropa

Jika para pemilih Prancis memutuskan untuk memilih Marine Le Pen, mereka harus menghadapi sejumlah usulan kontroversial seperti pemotongan kontribusi keuangan untuk anggaran Uni Europa, pengurangan bantuan militer untuk Ukraina, serta potensi keluar dari zona euro. Langkah-langkah tersebut dinilai dapat menjadi kemunduran besar bagi proyek integrasi Eropa yang kini berfokus pada perdagangan dan keamanan.

Berdasarkan data Kiel Institute’s Ukraine Support Tracker, pemotongan bantuan militer akan menghilangkan 3,5 persen dari total bantuan militer asing yang diterima Ukraina. Di saat yang sama, Fieschi memperkirakan bahwa situasi ini dapat dimanfaatkan oleh Trump untuk segera merumuskan kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Victoria Vdovychenko, seorang pakar Ukraina di Centre for Geopolitics Universitas Cambridge, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Rusia berpotensi memperintensifkan perang di seluruh domain yang diyakini telah dilancarkan terhadap Eropa. Perang kognitif tersebut memanfaatkan berbagai kerentanan yang sudah ada di benua Eropa.

Perubahan lanskap politik dunia dan kebijakan luar negeri AS telah mentransformasi pandangan publik Eropa secara signifikan. Berdasarkan jajak pendapat lembaganya yang dilaporkan oleh Bertelsmann Stiftung, hanya 31 persen warga Eropa yang kini melihat AS sebagai sekutu paling terpercaya, turun dari angka 51 persen pada 2024 saat Joe Biden menjabat.

Selain itu, sebanyak 73 persen warga Eropa dari berbagai kelompok usia menyatakan bahwa Eropa harus menempuh jalurnya sendiri alih-alih melanjutkan kerja sama erat dengan AS, meningkat dari 63 persen pada tahun sebelumnya. Jajak pendapat terpisah oleh Pew Research Center juga mencatat bahwa 76 persen responden di 36 negara menyatakan tidak memiliki kepercayaan terhadap Trump.

Pergeseran persepsi publik yang terbentuk selama dua masa jabatan Trump tersebut dinilai sulit dibalikkan hanya melalui satu pemilu kongres, terutama di tengah situasi perang Rusia yang masih berlangsung di Eropa.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *