Daftar Isi
Arafat Minhas muncul sebagai bintang baru kriket Pakistan setelah tampil gemilang dalam berbagai pertandingan internasional. All-rounder berusia 21 tahun ini sukses membawa timnya meraih kemenangan penting, termasuk dalam laga final seri tri-nation melawan Sri Lanka.
Aksi Penentu di Partai Final
Dalam pertandingan final seri tri-nation One-Day International (ODI) di Stadion Gaddafi, Lahore, pada hari Sabtu, Pakistan sempat berada di ambang kekalahan saat tertinggal lima wicket dengan kebutuhan 125 run dari 79 bola di bawah lampu sorot. Arafat kemudian turun ke lapangan untuk bermitra dengan Hasan Nawaz di hadapan penonton tuan rumah.
Meskipun tidak mencetak wicket pada inning Sri Lanka sebelumnya, Arafat mampu meredam tekanan dan membalikkan keadaan dalam beberapa over. Ketika Pakistan membutuhkan 39 run dari 27 bola, Dasun Shanaka dari Sri Lanka melemparkan bola pendek yang mengarah ke tubuh Arafat.
Tanpa rasa gentar, pemain muda tersebut mengayunkan pemukulnya dan mengirim bola melewati midwicket untuk menghasilkan enam run yang membakar semangat penonton. Selepas momen tersebut, Arafat kembali mencetak empat pukulan enam run tambahan dan menyelesaikan pertandingan dengan 61 run dari 31 bola, memastikan trofi bagi Pakistan serta meraih gelar pemain terbaik seri.
Secara keseluruhan, ia menutup rangkaian seri tersebut dengan mengantongi sembilan wicket dan 149 run, yang mencakup dua kali setengah abad. Komentator siaran langsung memuji penampilannya, sementara Arafat menyatakan bahwa ia menikmati tekanan dalam kejar-mengejar angka di partai final dan berusaha tetap tenang agar tim percaya target tersebut dapat tercapai.
Catatan Gemilang sebagai All-Rounder Lengkap
Sebelum bersinar di laga puncak, Arafat juga menorehkan salah satu performa bowling terbaiknya saat menghadapi Inggris di Rawalpindi pada 10 Oktober. Selepas mencetak 59 run dari 58 bola untuk membantu Pakistan bangkit dari posisi 81-4 dan membukukan 302-9, ia memborong enam wicket dengan 40 run sehingga Inggris tertahan di angka 215 dan kalah 87 run.
Inggris sempat memimpin 91 run tanpa kehilangan wicket sebelum Arafat meruntuhkan susunan pemukul lawan. Kapten Inggris Harry Brook turut menjadi korban setelah bola tipuan berhasil menembus pertahanan dan menghantam stump, membuat sang kapten terkejut di lapangan.
Pujian turut disampaikan oleh mantan kapten Inggris Nasser Hussain dalam siaran pertandingan atas kontribusi lengkap sang pemain. Capaian tersebut menjadikan Arafat sebagai pemain ketiga Pakistan yang mampu mencetak setengah abad dan mengambil sedikitnya lima wicket dalam ODI pria, menyusul Shahid Afridi dan Abdul Razzaq.
Pada debut ODI melawan Australia bulan Mei lalu, Arafat juga mengukir sejarah dengan mencatat 5-32, menjadikannya pemain Pakistan pertama yang meraih lima wicket pada laga debut sekaligus menyabet penghargaan pemain terbaik seri. Dalam wawancara dengan Dewan Kriket Pakistan (PCB), ia menegaskan lebih menyukai sebutan all-rounder seutuhnya ketimbang dikotak-kotakan sebagai spesialis pukul atau lempar.
Fondasi Awal dan Peran Keluarga
Kisah sukses Arafat berakar dari dukungan sang ayah, Kashif, yang merupakan mantan pemain kriket tingkat under-19 asal Multan yang terpaksa mengubur mimpinya demi mengurus bisnis keluarga. Melihat bakat alami pada anak-anaknya yang bermain dengan telur mainan dan bola plastik, Kashif memutuskan untuk melatih mereka menjadi atlet profesional.
Ketika Arafat berusia delapan atau sembilan tahun, ayahnya memberikan bola keras dan mengarahkannya menekuni teknik spin lengan kiri. Pada tahun 2020, saat pembatasan akibat pandemi COVID-19 mengancam latihan mereka, Kashif bahkan membangun fasilitas latihan kriket lengkap dengan jaring, matras lapangan, dan lampu sorot di atap rumahnya di Multan.
Setelah menonjol di kelompok usia Pakistan dan tampil di Piala Dunia U-19 ICC 2024, langkah Arafat menuju tim senior terbuka lebar. Jejak langkah ini turut diikuti oleh adik-adiknya, di mana Sameer masuk dalam skuad Test Pakistan untuk seri melawan Sri Lanka bulan November setelah mencetak 405 run dalam kriket kelas satu, sementara bungsu mereka, Abdullah, juga menekuni kriket sebagai pemukul kidal dan pemutar bola kaki.
Kashif berharap ketiga putranya kelak dapat bermain bersama di tim nasional Pakistan dan mempersembahkan trofi internasional untuk mewujudkan mimpi masa lalunya yang sempat tertunda.



