Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memberikan penilaian positif terhadap capaian hilirisasi pertambangan di Indonesia, terutama karena hasil pertambangan tak lagi langsung dijual dalam kondisi mentah.
Penilaian Positif untuk Sektor Pertambangan
Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Golkar Bambang Patijaya memberikan nilai 9 dari 10, bagi industri pertambangan Indonesia karena sudah berhasil memulai hilirisasi.
“Hilirisasi tahap pertama dari sektor pertambangan, smelter berbasis IUP (Izin Usaha Pertambangan) sudah mulai. Dirjen Minerba dapat nilai 9 dari 10, karena tidak ada mineral yang dijual begitu saja, minimal ada peningkatan kadar,” kata Bambang dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia bertajuk “Hilirisasi Melaju, Industri Tambang Makin Kuat?”, dikutip Kamis (29/10/2026).
Tak hanya di sektor pertambangan, Bambang menilai hampir semua sektor saat ini melakukan proses hilirisasi di dalam negeri, termasuk sektor energi maupun agro atau pertanian.
“Secara keseluruhan hilirisasi berjalan, mau energi, agro, dan macam-macam, semua jalan hilirisasinya. Transisi energi sangat ingin kita lakukan, terkait BBM kita sudah maju jauh, menuju E5 (pencampuran bioetanol 5 persen). Tambang juga bagus, terutama terkait baterai, sudah kita lakukan,” terang Bambang.
Tantangan Mineral dan Perkembangan Nikel
Meski begitu, menurutnya masih ada dua mineral yang masih memiliki dinamika dan tantangan hilirisasi, yakni zirkon dan monasit.
“Sekarang ini mineral yang masih banyak dinamika seperti zirkon, monasit, tapi zirkon ini dinamika masih tinggi, dan sudah ditingkatkan kadarnya. Jadi apapun hasil pertambangan tidak kita jual begitu saja,” jelasnya.
Sementara industri nikel, menurutnya, hilirisasi terus berkembang dan tidak terbatas pada proses smelting.
“Hilirisasi lanjutan, misalkan nikel, tidak semata-mata berkembang di sektor smelting, tapi yang lain juga berkembang. Saat mereka berkembang, bisa dikembangkan untuk baterai, itulah game changer,” ujarnya.
Bahkan, kini industri nikel bukan hanya menyerap bijih nikel kadar tinggi atau saprolit, tetapi juga merambah pada jenis nikel limonit atau bijih nikel kadar rendah.
“Hari ini tiba-tiba nikel limonit, 10 tahun lalu enggak dilirik, enggak minat, sekarang dicari karena pasarnya sedang berkembang,” imbuhnya.






