Daftar Isi
Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa burung laut yang melakukan migrasi jarak jauh melintasi Samudra Atlantik dapat mengalami jet lag. Kondisi ketidaksesuaian antara jam biologis internal dan waktu setempat tersebut berdampak pada sistem navigasi burung sehingga membuat arah terbang mereka melenceng dari jalur sebenarnya.
Penyebab Penyimpangan Arah Terbang
Burung mengandalkan posisi Matahari sebagai acuan untuk menentukan arah penerbangan. Karena Matahari bergerak sepanjang hari, burung membutuhkan jam biologis internal untuk menafsirkan posisinya secara tepat. Isyarat Matahari terbit umumnya dimanfaatkan burung untuk mengatur ulang jam tubuh mereka.
Namun, ketika burung terbang dengan cepat ke arah timur atau barat pada siang hari, jam biologis internal mereka menjadi tidak sinkron dengan waktu Matahari setempat. Akibat pergeseran waktu tersebut, burung salah memperkirakan posisi Matahari dan mengalami penyimpangan arah penerbangan.
Hasil Analisis Pelacakan Camar Manx
Berdasarkan data dari Departemen Biologi Universitas Oxford, tim peneliti menganalisis pelacakan GPS selama 20 tahun terhadap 1.045 burung camar Manx (Puffinus puffinus). Studi tersebut mengamati sekitar 3.688 perjalanan mencari makan yang dilakukan spesies burung yang berkembang biak di lepas pantai barat Inggris dan Irlandia ini.
Saat mencari makan, burung camar Manx terbang hingga jarak 1.000 kilometer ke arah barat. Ketika kembali ke sarang di arah timur, mereka melintasi garis bujur menuju wilayah dengan waktu Matahari terbit lebih awal, yang memicu jet lag hingga satu jam.
Hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal Science pada Kamis (29/10) mengonfirmasi adanya penyimpangan sistematis pada arah terbang burung. Melalui pemodelan statistik, peneliti menemukan bahwa kesalahan orientasi ini disebabkan oleh gangguan kompas Matahari, bukan pengaruh medan magnet Bumi sebagaimana diperkirakan pada hipotesis terdahulu. Penyimpangan ini bahkan tetap terjadi ketika burung terbang di sepanjang garis pantai yang memiliki penanda visual lokasi.
“Sungguh menakjubkan untuk berpikir bahwa miliaran hewan migrasi menatap matahari untuk menentukan arah, mengandalkan jam yang berdetak tanpa suara di dalam tubuh mereka, dan bahwa kesalahan pada jam tersebut dapat menyebabkan mereka menyimpang sedikit dari jalur yang seharusnya,” kata peneliti utama Patrick Lewin.
Dampak dan Potensi Studi Bagi Manusia
Kesalahan navigasi akibat efek jet lag ini relatif kecil, yakni sekitar 15 derajat. Burung camar biasanya mengenali posisi mereka dan secara konsisten menyesuaikan rute penerbangan. Perhitungan peneliti menunjukkan, burung yang terbang kembali dari jarak 1.000 kilometer dengan rata-rata kesalahan kompas 7 derajat hanya menempuh jarak tambahan sekitar 5 kilometer dari rute idealnya.
Kendati demikian, dampak penyimpangan dapat menjadi signifikan bagi burung muda yang baru pertama kali melakukan migrasi tanpa kemampuan penyesuaian rute secara berkala, yang berisiko membuat mereka tersesat hingga ratusan kilometer. Selain berpengaruh pada navigasi, fenomena ini berpotensi menimbulkan kelelahan serta gangguan tidur pada burung.
“Mungkin burung-burung yang secara rutin melakukan perjalanan jarak jauh ini dapat membantu kita mempelajari cara mengatasi dan mengobati jet lag untuk menghindari efek negatif yang sangat buruk bagi kesehatan kita,” kata Patrick.






