Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap terjaga pada level 5,4 persen hingga 5,5 persen secara tahunan (yoy). Proyeksi ini disampaikan di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global, ketegangan geopolitik, serta pengetatan kebijakan moneter dunia.
Faktor Pendorong Konsumsi dan Investasi
Seperti dilaporkan detikcom, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) IV Tahun 2026 di Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026), bahwa proyeksi tersebut disokong oleh permintaan domestik yang kuat dan kinerja ekspor yang positif. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai terus berperan sebagai peredam kejutan atau shock absorber melalui penyaluran subsidi, perlindungan sosial, kompensasi, stabilisasi harga pangan, hingga program penyerapan tenaga kerja.
Laju investasi domestik diperkirakan berkembang pesat ditopang oleh keberlanjutan proyek prioritas pemerintah, seperti hilirisasi industri dan pembangunan infrastruktur. Di sektor eksternal, volume ekspor nonmigas terus dipacu demi memanfaatkan momentum kenaikan harga serta permintaan komoditas pasar global.
Indikator Riil dan Sinergi Kebijakan
Optimisme pertumbuhan nasional ini sejalan dengan menguatnya sejumlah indikator ekonomi riil. Penjualan kendaraan bermotor pada September 2026 mencatatkan lonjakan signifikan, dengan penjualan mobil tumbuh 28,1 persen yoy dan sepeda motor naik 15,4 persen yoy. Selain itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik dari level 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026.
Guna mempertahankan momentum ekspansi ini, pemerintah bersama anggota KSSK lainnya—yaitu Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan—serta Danantara selaku pengelola BUMN bersepakat memperkuat bauran kebijakan.
“Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan, penguatan sinergi kebijakan pemerintah dan BI, serta kolaborasi pemerintah dan danantara melalui pendekatan whole-of-the-state terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan bernilai tambah tinggi,” ujar Suahasil.
Sumber: Finance - Detikcom






