Nasional

BMKG Prediksi Lonjakan Awan Hujan di Kalimantan dan Sumatra

BMKG Prediksi Lonjakan Awan Hujan di Kalimantan dan Sumatra

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyatakan bahwa potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah terpantau cukup tinggi dalam lima hari ke depan. Peningkatan awan hujan tersebut merupakan hasil dari pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilakukan secara masif oleh pemerintah pada kawasan-kawasan yang terdeteksi memiliki banyak titik panas.

Potensi Hujan dan Karhutla

Menurut Teuku Faisal Fathani di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin (26/10), potensi pertumbuhan awan di Kalimantan Tengah diproyeksikan berlangsung sejak hari ini hingga lima hari ke depan, sementara di Sumatra Selatan akan dimulai sejak keesokan harinya selama durasi yang sama. Seperti dilaporkan CNN Indonesia, langkah tersebut diambil karena kebakaran hutan dan lahan sempat meningkat di sejumlah lokasi dalam rentang dua hingga empat minggu sebelum tibanya musim hujan.

Teuku menjelaskan bahwa pihaknya bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Wakil Kepala Badan Pengelola Gambut Nasional turun langsung ke Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan untuk mengendalikan karhutla. Operasi modifikasi cuaca ini dilakukan dengan mengombinasikan penggunaan es kering (dry ice) dan garam (NaCl) serta mengerahkan armada pesawat Hercules, CN-295, serta pesawat milik TNI atas arahan Presiden.

Metode Modifikasi Cuaca

Penerapan metode *dry ice* bertujuan untuk mengurangi kepekatan asap akibat karhutla dengan cara membongkar lapisan inversi yang menyebabkan asap terperangkap di bawah ketinggian 6.000 hingga 7.000 kaki. Setelah asap berhasil naik ke atas, paparan sinar matahari dapat memicu proses penguapan dan membentuk awan hujan sebelum akhirnya petugas melakukan penyemaian awan menggunakan NaCl.

Lebih lanjut, Teuku menyampaikan bahwa sebagian wilayah Indonesia diprediksi memasuki musim hujan pada periode November hingga Desember, dengan puncak musim hujan terjadi pada Desember, Januari, dan Februari. Musim hujan secara rata-rata di seluruh wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kemunduran sekitar dua hingga tiga dasarian atau 20 sampai 30 hari akibat pengaruh fenomena El Nino.

Meskipun sifat hujannya normal berdasarkan rata-rata tingkat klimatologis dalam 30 tahun terakhir, durasi hujan akan menjadi lebih pendek dengan akumulasi air yang cukup banyak sehingga masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi basah pada akhir tahun hingga awal tahun depan.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *