Food

Bayar Food Blogger Rp85 Juta, Usaha Es Kelapa Tetap Sepi

Bayar Food Blogger Rp85 Juta, Usaha Es Kelapa Tetap Sepi

Seorang pemilik gerai minuman es kelapa di Singapura mengalami kerugian setelah menghabiskan dana lebih dari SGD 6.000 atau setara Rp85 juta untuk promosi melalui *food blogger* dan aplikasi Telegram. Namun, upaya pemasaran tersebut gagal mendatangkan peningkatan penjualan bagi bisnisnya.

Kronologi dan Hasil Promosi

Seperti dilaporkan Food – Detikcom, pemilik gerai minuman *coconut shake* bernama Coco Fwens di kawasan Serangoon tersebut bernama Pradeep Pannirselvam. Ia membagikan kisahnya melalui wawancara bersama BestFoody yang diunggah ke Instagram pada 25 Oktober 2026.

Pradeep merintis usaha kulinernya pada bulan Maret 2026. Memasuki bulan ketujuh masa operasional, bisnis miliknya belum menunjukkan kemajuan yang berarti, bahkan pada hari-hari tertentu ia hanya mampu menjual empat gelas minuman saja.

Berharap mendongkrak omzet, Pradeep menyewa jasa *food blogger* dengan menggelontorkan dana lebih dari SGD 3.000 atau sekitar Rp43 juta. Langkah tersebut ternyata nihil hasil. Ia lalu beralih menggunakan strategi lain dengan membayar nominal serupa untuk sekali unggahan promosi di grup Telegram, yang juga berujung pada kegagalan.

“Sebelum bekerja sama, mereka menunjukkan hasil yang mengesankan dan menjanjikan promosi yang luas. Namun, setelah mengeluarkan uang, responsnya hampir tidak ada,” tutur Pradeep.

“Sejujurnya, ini menyakitkan. Bagi usaha kecil seperti kami, SGD 6.000 merupakan jumlah yang besar. Uang itu sebenarnya bisa membantu kami bertahan lebih lama,” imbuhnya.

Ketekunan dan Pelajaran Bisnis

Walau merugi, mantan manajer klub rekreasi itu menyatakan tidak menaruh dendam kepada pihak mana pun dan memandang situasi tersebut sebagai bagian dari pengalaman berwirausaha. Selama gerainya beroperasi, Pradeep bahkan belum pernah menggaji dirinya sendiri dan memilih terus berjualan setiap hari.

“Menjalankan bisnis membutuhkan percobaan dan kesalahan. Kalau tidak pernah mencoba, kita tidak akan tahu. Kita harus gigih,” kata Pradeep.

Ia menyadari bahwa kualitas produk yang baik tidak selalu menjadi jaminan ramainya pembeli, begitu pula harga sewa kios yang terjangkau belum tentu menandakan letak usaha yang strategis. Di tengah masa-masa sulit ini, Pradeep terbantu oleh sang istri yang tetap bekerja sekaligus membantunya menjaga gerai.

“Istri saya tidak pernah mengeluh atau meminta saya menyerah. Terima kasih sudah mendampingi saya di keadaan sulit seperti ini,” pungkasnya.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *