News

Kebakaran Hutan di Papua Ancam Satwa Endemik dan Burung Migran

Kebakaran Hutan di Papua Ancam Satwa Endemik dan Burung Migran

Kebakaran hutan di Papua hingga saat ini telah mencapai luas ribuan hektare dan berisiko mengancam satwa endemik serta keanekaragaman hayati di pulau tersebut. Kondisi ini turut berdampak pada burung migran yang bergantung sepenuhnya pada ekosistem hutan dan kawasan lahan basah.

Peningkatan Aktivitas Kebakaran dan Deforestasi

Selama dua dekade terakhir, wilayah Papua menghadapi deforestasi serta pembukaan hutan dalam skala besar guna memenuhi berbagai kepentingan komersil. Aktivitas tersebut mencakup perkebunan kelapa sawit, tanaman bahan baku bubur kertas, pertanian skala kecil, perluasan wilayah perkotaan, hingga sektor pertambangan.

Menurut peneliti University of California, Irvine, Yang Chen, seperti dilaporkan CNN Indonesia, tingkat aktivitas kebakaran di Papua Nugini serta kawasan Indonesia bagian timur pada tahun ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan sejumlah daerah di Indonesia bagian barat.

“Kami melihat aktivitas kebakaran yang sangat tinggi di Papua Nugini dan Indonesia Timur, khususnya Papua Indonesia dan Kalimantan, tahun ini dibandingkan Sumatra dan wilayah Indonesia Barat lainnya,” ujar Chen.

Catatan dari Global Forest Watch memperlihatkan bahwa Papua telah kehilangan kurang lebih 27 ribu hektare hutan primer sepanjang tahun 2025. Jumlah kehilangan hutan tersebut melonjak hingga hampir dua kali lipat dibanding tahun 2024 dan mencatatkan angka tertinggi sejak 2017.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per hari Minggu (1/11) melaporkan area yang terbakar di Papua Selatan seluas 695 hektare. Wilayah tersebut mencakup 379 titik panas serta 171 titik api, dengan sekitar 253 hektare di antaranya masih belum padam.

“Berdasarkan data BNPB per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB, Papua Selatan masih menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan karhutla,” tutur Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan pada Senin (2/11).

Dampak Terhadap Satwa dan Ekosistem Burung

Pulau Papua memiliki berbagai macam ekosistem mulai dari hutan hujan dataran rendah, hutan rawa, savana, hingga lahan basah. Bencana kebakaran hutan ini mengancam kelangsungan hidup satwa endemik yang populasinya semakin langka di pulau tersebut.

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, Taman Nasional Wasur di Kabupaten Merauke yang membentang seluas 431.425 hektare dihuni oleh 403 spesies burung. Sebanyak 74 spesies di antaranya merupakan burung endemik Papua dan 114 spesies termasuk ke dalam satwa dilindungi.

Kawasan Taman Nasional Wasur menyediakan padang rumput, rawa, serta perairan dangkal yang berfungsi sebagai tempat persinggahan burung migran asal Australia dan Selandia Baru. Ribuan burung memanfaatkan lahan basah ini untuk mencari makan dan beristirahat selama mereka melakukan perjalanan migrasi.

Adanya kebakaran hutan menyebabkan satwa-satwa tersebut kehilangan tempat tinggal. Selain paparan api secara langsung, bencana ini menimbulkan panas, asap, perubahan kondisi tanah, serta pengurangan vegetasi yang berdampak buruk pada kelangsungan hidup mereka.

Situasi tersebut berpotensi menghilangkan tempat berlindung, bersarang, berkembang biak, dan mencari makan bagi aneka jenis satwa. Sebelumnya, populasi hewan-hewan ini juga telah mengalami penurunan yang signifikan akibat pembukaan lahan untuk keperluan komersil.

Damianus V.S. Woghomugu bersama Hermanus Warmetan dari Universitas Papua, yang meneliti pengelolaan lahan basah Taman Nasional Wasur sebagai habitat burung migran, menyampaikan bahwa kerusakan pada satu bagian habitat akan berdampak luas terhadap fungsi ekologis kawasan.

Para ahli menilai bahwa peristiwa kebakaran hutan yang terjadi secara berulang dari tahun ke tahun memerlukan perhatian serius karena ekosistem hutan membutuhkan durasi pemulihan vegetasi yang lama. Pada ekosistem lahan basah, perubahan vegetasi serta kondisi perairan juga dapat mengganggu rantai makanan yang mencakup ikan kecil, serangga, dan organisme akuatik, sehingga pemantauan ekosistem dan pemulihan habitat pascakebakaran menjadi langkah yang sangat esensial.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *