Ekonomi

Presiden Fed Richmond Prediksi Kenaikan Suku Bunga Berlanjut

Presiden Fed Richmond Prediksi Kenaikan Suku Bunga Berlanjut

Presiden Federal Reserve Richmond Thomas Barkin menyatakan pada Kamis bahwa bank sentral Amerika Serikat kemungkinan besar harus kembali menaikkan suku bunga. Kendati demikian, ia mengaku belum dapat memastikan besaran maupun kecepatan pengetatan kebijakan tersebut.

Pandangan Mengenai Suku Bunga dan Inflasi

Dalam wawancara dengan CNBC yang menjadi bagian dari Konferensi Tingkat Tinggi CFO Richmond Fed 2026, Barkin menyampaikan kekhawatirannya terhadap tingkat inflasi yang masih tinggi. Ia menilai kebijakan moneter perlu disesuaikan dengan kondisi ekonomi saat ini, di mana tingkat pengangguran berada di dekat rekor terendah.

“Unemployment’s near record lows, and inflation is too high. That means the path is pretty straightforward. The question, of course, is pace,” ujar Barkin dalam bincang-bincang bersama Steve Liesman dari CNBC.

Ia menilai langkah penaikan secara bertahap merupakan pilihan yang paling masuk akal mengingat tingginya ketidakpastian global serta potensi masuknya data-data baru. Pernyataan tersebut disampaikan berselang lebih dari sepekan setelah para pejabat The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pinjaman semalam di kisaran 3,75 persen hingga 4 persen. Meskipun saat ini tidak memiliki hak suara dalam Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang menetapkan suku bunga, Barkin baru akan menjadi anggota pemilih pada 2027.

Dalam pernyataan resmi pascapertemuan, FOMC menyebutkan bahwa mereka masih menantikan tambahan informasi sebelum menentukan arah kebijakan selanjutnya. Saat komite menyetujui kenaikan seperempat poin persentase pada September lalu, para pejabat sebagian besar sepakat bahwa kenaikan lanjutan berpeluang besar terjadi sebelum akhir 2026. Sementara itu, berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, pasar memperkirakan peluang lebih dari 80 persen untuk terjadinya kenaikan suku bunga pada Desember, disusul satu kali lagi penyesuaian pada 2027.

Penilaian Kondisi Ekonomi dan Risiko

Barkin menganggap posisi kebijakan saat ini sudah mendekati titik netral, yakni tingkat suku bunga yang tidak bersifat membatasi maupun mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, konsumsi yang mencakup sekitar dua pertiga dari total perekonomian masih terpantau cukup tinggi sehingga menunjukkan kebijakan saat ini masih cenderung akomodatif.

“Inflation is the most important risk right now … and I hope that our move in September and whatever else we might choose to do in the future will have some impact on inflation,” ungkap Barkin.

Ia menambahkan bahwa kecerdasan buatan turut menjadi salah satu faktor pemicu tekanan harga, meski di sisi lain teknologi tersebut diyakini akan mendongkrak produksi dan membantu meredakan inflasi di masa depan. Selain itu, ia menyoroti penerbitan utang kepada perusahaan-perusahaan teknologi berskala besar (hyperscalers) yang tahun ini diperkirakan melampaui 500 miliar dolar Amerika Serikat sebagai hal yang patut dicermati terkait potensi masalah kredit.

“It’s pretty hard to convince yourself that some of these big hyperscalers who are generating so much cash from their core businesses aren’t good credits,” kata Barkin. “So it’s more who are the intermediaries in this world who are taking on risks that you don’t know about. … You do wonder where in the intermediary sector is the biggest risk.”

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *