BUMN

Laba Bersih PTBA Tembus Rp 4,41 Triliun hingga Triwulan III 2026

Laba Bersih PTBA Tembus Rp 4,41 Triliun hingga Triwulan III 2026
Daftar Isi
  1. Pemulihan Operasional dan Pendapatan Usaha
  2. Pengendalian Biaya dan Posisi Keuangan
  3. Aset, Liabilitas, dan Arus Kas

PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mencatatkan kinerja keuangan yang solid dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 4,41 triliun hingga periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang disampaikan kepada BEI dan OJK, perusahaan tambang pelat merah ini juga mengantongi EBITDA sebesar Rp 7,19 triliun dengan net profit margin 13 persen dan EBITDA margin 20 persen.

Pemulihan Operasional dan Pendapatan Usaha

Kinerja operasional PTBA menunjukkan pemulihan signifikan pada kuartal III-2026. Secara kuartalan, produksi meningkat 17 persen dan penjualan naik 2 persen, sementara harga jual rata-rata (ASP) naik 7 persen secara kuartalan serta 18 persen secara tahunan. Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, menyatakan bahwa pencapaian ini didukung oleh pemulihan produksi, optimalisasi bauran penjualan dengan memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara, serta pengelolaan biaya yang disiplin di tengah dinamika industri.

Hingga September 2026, PTBA membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 35,20 triliun atau meningkat 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan ASP sebesar 18 persen seiring penguatan harga batu bara global, seperti kenaikan indeks Newcastle sebesar 25 persen dan ICI-3 sebesar 26 persen. Kenaikan harga jual ini mampu mengimbangi penurunan volume penjualan sebesar 4 persen menjadi 52 persen untuk pasar domestik dan 48 persen untuk ekspor ke Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, serta Thailand.

Pengendalian Biaya dan Posisi Keuangan

Beban pokok pendapatan PTBA tercatat sebesar Rp 27,94 triliun atau naik 1 persen secara tahunan, dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bakar sebesar 36 persen yang menambah biaya penambangan dan pengangkutan. Meskipun demikian, tekanan biaya tersebut berhasil diimbangi oleh penurunan stripping ratio dari 5,98 kali menjadi 5,59 kali, serta penurunan volume produksi dan angkutan masing-masing sebesar 4 persen dan 10 persen. Di sisi lain, beban operasional meningkat 13 persen menjadi Rp 266,77 miliar.

Dari pos keuangan lainnya, penghasilan keuangan naik 16 persen menjadi Rp 183,50 miliar berkat penempatan deposito berjangka dan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Sebaliknya, biaya keuangan turun 45 persen menjadi Rp 136,52 miliar setelah perusahaan melunasi fasilitas kredit modal kerja pada akhir 2025, sementara bagian laba neto dari entitas asosiasi dan ventura bersama melonjak 75 persen menjadi Rp 581,31 miliar.

Aset, Liabilitas, dan Arus Kas

Total aset PTBA hingga 30 September 2026 mencapai Rp 51,55 triliun, meningkat 17 persen dari posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp 43,92 triliun. Kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan deposito berjangka, piutang usaha, serta pajak dibayar di muka. Total liabilitas naik 14 persen menjadi Rp 24,31 triliun akibat penambahan pinjaman bank untuk Proyek Tanjung Enim-Kramasan, sementara ekuitas tumbuh 20 persen menjadi Rp 27,24 triliun.

Arus kas bersih dari aktivitas operasi naik 9 persen menjadi Rp 4,44 triliun. Sementara itu, arus kas untuk aktivitas investasi naik menjadi Rp 3,50 triliun akibat penempatan deposito DHE, dan arus kas untuk aktivitas pendanaan turun menjadi Rp 0,70 triliun karena pembayaran dividen yang lebih rendah serta penerimaan pinjaman jangka panjang proyek.

Corporate Secretary Division Head Eko Prayitno menambahkan, perseroan akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui peningkatan efisiensi, optimalisasi rantai pasok, percepatan proyek strategis, serta diversifikasi usaha lewat pengembangan energi dan hilirisasi batu bara.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *