Pemilu paruh waktu atau midterm elections di Amerika Serikat kerap menjadi ujian bagi presiden yang sedang menjabat. Ujian serupa akan dihadapi Donald Trump pada 3 November mendatang, di mana para pemilih akan menentukan komposisi Kongres yang mencakup seluruh anggota House of Representatives atau DPR AS dan sepertiga anggota Senat.
Catatan Historis Pemilu Paruh Waktu
Catatan historis menunjukkan bahwa partai yang menguasai Gedung Putih cenderung kehilangan kursi DPR dalam pemilu paruh waktu yang berlangsung setiap dua tahun sekali. Dalam 10 masa kepresidenan terakhir, partai presiden kehilangan kursi sebanyak delapan kali. Hanya dua pemilu yang menjadi pengecualian, yakni pada 1998 dan 2002.
Sejak 1986 hingga 2022, partai presiden hanya dua kali berhasil menambah kursi DPR. Pada 1998, Partai Demokrat di bawah Presiden Bill Clinton memperoleh tambahan empat kursi di tengah upaya pemakzulan oleh Partai Republik yang tidak didukung publik, dengan tingkat persetujuan kinerja Clinton mencapai 66 persen.
Empat tahun kemudian, Partai Republik di bawah George W. Bush menambah delapan kursi DPR dan dua kursi Senat. Kemenangan tersebut terjadi setelah serangan teroris 11 September 2001 yang mendongkrak tingkat persetujuan publik terhadap Bush hingga mencapai 63 persen pada hari pemilu.
Tantangan Trump dan Dinamika Kongres
Menjelang pemilu 3 November 2026, Trump menghadapi tantangan dari sisi popularitas. Berdasarkan survei Reuters/Ipsos yang rampung pada 26 Oktober, tingkat persetujuan terhadap kinerjanya berada di 32 persen, yang masih dekat dengan level terendah selama masa jabatan keduanya.
Dalam survei yang sama, kandidat Demokrat unggul atas Republik dalam pilihan partai untuk pemilu Kongres. Di antara pemilih terdaftar, Demokrat memperoleh dukungan 47 persen berbanding 36 persen untuk Republik, sementara pada kelompok pemilih yang kemungkinan besar memberikan suara, keunggulan Demokrat tercatat 53 persen berbanding 44 persen.
Persaingan untuk menguasai DPR dan Senat memiliki dinamika berbeda karena komposisi kursi yang diperebutkan tidak sama. Bagi Trump, pemilu paruh waktu menjadi ujian untuk mempertahankan kendali Partai Republik atas Kongres demi kelanjutan agenda pemerintahannya.







