Meskipun menakutkan dan kerap bermunculan menjelang Halloween, film horor memiliki banyak penggemar setia. Kegemaran menonton film menegangkan ini ternyata dapat mencerminkan sejumlah karakteristik kepribadian tertentu.
Kepribadian Penggemar Film Horor
Berdasarkan berbagai penelitian yang dikutip dari Verywell Mind, hobi menonton film horor sangat berkaitan erat dengan sifat pencari sensasi. Individu dengan sifat ini cenderung menyukai pengalaman baru, berisiko, serta intens, dan kerap merasakan emosi positif dari situasi yang sangat merangsang meskipun itu berupa pengalaman negatif.
Di sisi lain, orang yang menikmati film horor juga seringkali diidentifikasi memiliki empati yang rendah karena kurang terpengaruh oleh penderitaan di dalam alur cerita. Kendati demikian, kondisi tersebut tidak berlaku bagi semua orang karena tingkat empati terhadap karakter fiksi tidak selalu sama dengan kehidupan nyata.
Menurut Your Tango, penggemar film horor umumnya memiliki tingkat stres yang rendah karena tontonan tersebut berfungsi sebagai terapi paparan. Adegan meresahkan dalam film membantu seseorang membangun strategi emosional dan perilaku untuk menghadapi ketakutan, yang kemudian memicu pelepasan zat kimia otak seperti dopamin, serotonin, oksitosin, dan endorfin untuk menghadirkan rasa senang serta lega setelah ketegangan mereda.
Kemampuan Mengatasi Ketakutan dan Trauma
Karakteristik berikutnya adalah kemampuan yang baik dalam mengatasi rasa takut serta kecemasan. Merujuk pada penelitian Mathias Clasen dari Universitas Aarhus, Denmark, dalam Review of General Psychology (2012), film horor melatih pikiran penonton untuk mempelajari strategi pengelolaan rasa takut yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Para penonton juga menyadari sepenuhnya bahwa unsur dalam film merupakan fiktif belaka, sehingga mereka dapat memperkuat ketahanan, kemampuan beradaptasi, serta keterampilan pemecahan masalah. Selain itu, hobi ini membantu mendesensitisasi diri terhadap hal menakutkan, membuat seseorang lebih mahir menavigasi kecemasan, fobia, dan rasa tidak aman.
Kecocokan dengan tokoh protagonis yang menghadapi trauma di dalam film turut memengaruhi pemahaman seseorang dalam mengatasi trauma pribadi. Proses tersebut sekaligus memberikan rasa lega serta menjadi sarana pelarian dari berbagai pergumulan hidup sehari-hari.







