Kemenangan pemilihan umum Luiz Inácio Lula da Silva menempatkan Brasil di persimpangan jalan ekonomi yang menuntut keseimbangan fiskal ketat. Para pengamat pasar menilai kepemimpinan baru ini harus meredakan kekhawatiran investor sembari tetap menjalankan agenda kesejahteraan sosial.
Strategi Pasar dan Pengendalian Belanja
Menurut catatan analis di US Top News and Analysis (cnbc.com), kepemimpinan Lula diyakini akan mengelola ketegangan ekonomi melalui pendekatan bertahap guna meyakinkan pasar keuangan pada tahap awal. Langkah penenteraman tersebut mencakup sinyal-sinyal persiapan aturan untuk meningkatkan surplus primer tahun 2027, termasuk kemungkinan amendemen konstitusi guna memperluas pembekuan pengeluaran serta penunjukan menteri keuangan yang ramah pasar.
Kendati demikian, tantangan utama tetap berkisar pada apakah pasar memandang disiplin fiskal tersebut bersifat sementara. Ada kekhawatiran bahwa Lula dapat kembali jorjoran menggelontorkan belanja menjelang pemilihan umum 2030 apabila dukungan terhadap kelompok kiri mengalami penurunan.
Elizabeth Johnson selaku direktur pelaksana riset Brasil di TS Lombard menyatakan dalam keterangannya pada hari Selasa bahwa Lula menghadapi potensi krisis fiskal yang sebagian besar bersumber dari kebijakan sendiri. Guna meredam gejolak pasar, serangkaian langkah penstabil diharapkan segera muncul, seperti pengetatan tunjangan pegawai negeri, pengurangan kredit bersubsidi, serta pengajuan usulan pajak baru atas produk tertentu seperti alkohol dan rokok dalam waktu dekat.
Di samping itu, presiden akan berupaya mempercepat pengesahan berbagai reformasi sebelum parlemen baru mulai bersidang pada bulan Februari mendatang. Keberhasilan langkah tersebut sangat bergantung pada kesiapan Lula dalam memangkas pos pengeluaran.
Dasar perkiraan TS Lombard menunjukkan bahwa Lula bakal mendorong reformasi fiskal dalam skala moderat demi mencegah terjadinya krisis fiskal besar pada tahun 2027.
Dampak Terhadap Pasar Saham
Sementara itu, Russ Mould selaku direktur investasi di AJ Bell menyampaikan pandangannya pada hari Selasa bahwa pasar saham Brasil tetap berpotensi mengalami tekanan dalam jangka pendek. Pertanyaan besar mengenai pihak yang harus menanggung biaya usulan belanja kesejahteraan serta moratorium utang bagi usaha kecil masih belum terjawab secara pasti.
Kondisi tersebut diperkirakan memicu kenaikan imbal hasil obligasi bertenor sepuluh tahun terlebih dahulu, yang pada akhirnya menjadikan saham-saham perusahaan Brasil kurang menarik bagi para investor. Sebelumnya, indeks saham utama Brasil Ibovespa mencatatkan kinerja terbaik di antara pasar utama global pada tahun ini, didorong oleh ekspektasi kemenangan Bolsonaro serta keuntungan dari tingginya harga komoditas global.
Penurunan kinerja pasar keuangan domestik tersebut dikhawatirkan turut berdampak negatif pada indeks kawasan Amerika Latin secara lebih luas yang dapat diakses investor melalui dana yang diperdagangkan di bursa. Indeks MSCI Amerika Latin sempat menyentuh level tertinggi dalam dua belas tahun terakhir berkat pergeseran politik ke arah kanan yang sebelumnya juga diharapkan terjadi di Brasil.
Sumber: US Top News and Analysis






