Internasional

Potensi Perang Iran, AS, dan Israel Jilid Tiga

Potensi Perang Iran, AS, dan Israel Jilid Tiga

Militer Iran memperingatkan bahwa konflik terbuka baru dengan Amerika Serikat dan Israel akan berlangsung lebih panjang dan memakan biaya lebih besar dari perkiraan musuh. Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya isyarat bahwa perang antara kedua pihak yang dimulai pada 28 Februari dapat kembali meletus.

Kesiapan Militer dan Taktik Asimetris

Hossein Kanani Moghaddam, seorang mantan komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menyatakan kepada Al Jazeera bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi operasional yang lebih baik dibandingkan konflik sebelumnya meskipun sempat mengalami pukulan telak. Peningkatan tersebut mencakup basis data target yang semakin luas, peningkatan jangkauan, akurasi, serta hulu ledak rudal dan kemampuan drone.

Komandan dari Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, IRGC, dan Angkatan Darat Republik Islam Iran dilaporkan telah bertemu Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei untuk membahas langkah-langkah jika kembali diserang. Tanggapan Iran dipastikan bersifat langsung dan berpotensi melampaui kawasan Asia Barat.

Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, menegaskan bahwa pihaknya seratus persen siap menghadapi serangan lanjutan dengan target mencapai pencegahan maksimal dalam waktu dekat. Sementara itu, juru bicara angkatan darat, Mohammad Akraminia, menjelaskan bahwa para komandan akan mengandalkan taktik perang asimetris guna mengompensasi keunggulan perlengkapan militer Amerika Serikat.

Selama periode gencatan senjata singkat setelah memorandum Juni antara Iran dan Amerika Serikat, sejumlah senjata direnovasi dan peralatan baru ditambahkan bersama taktik anyar. Televisi pemerintah bulan lalu menampilkan jalur produksi drone bawah tanah beserta versi terbaru drone serang Arash yang diklaim memiliki hulu ledak seberat seratus kilogram dengan panduan yang lebih baik.

Sebuah investigasi Reuters menunjukkan bahwa berbagai lembaga militer pertahanan Iran telah menghindari sanksi dan menyalurkan miliaran dana untuk impor militer demi mengisi kembali persediaan IRGC. Impor yang berlangsung dari Januari 2025 hingga Juni tahun ini dari China, Rusia, dan Jerman tersebut mencakup propelan roket, bahan peledak, detonator, titanium, dan truk tugas berat yang dapat digunakan sebagai peluncur.

Kanani Moghaddam menambahkan bahwa sistem pertahanan rudal dan radar yang tersisa maupun yang baru dikembangkan kini semakin akurat, merujuk pada keberhasilan menargetkan jet tempur F-35 buatan Amerika Serikat dan pesawat nirawak lainnya. Di laut, Iran mampu menargetkan supertanker yang dianggap tidak sah melewati Selat Hormuz, setelah serangan terhadap kapal Angkatan Laut Amerika Serikat pada September membuat kapal-kapal tersebut berhenti melintasi jalur perairan krusial tersebut.

Kelemahan Intelijen dan Kondisi Domestik

Kendati demikian, blokade angkatan laut Amerika Serikat di pelabuhan-pelabuhan selatan Iran terus berlanjut, sementara penduduk sipil dan infrastruktur tetap rentan jika perang kembali berkecamuk. Teheran dan kota-kota lain masih kekurangan tempat perlindungan maupun sistem peringatan dini untuk melindungi warga sipil, sementara jaringan listrik, fasilitas minyak dan gas, pabrik petrokimia dan baja, serta jalan raya berisiko kembali menjadi sasaran serangan.

Analis yang terkait dengan pemerintah, Hamzeh Rahim Safavi, dalam sebuah debat televisi menyatakan bahwa pukulan telak yang diterima Iran disebabkan oleh kelemahan intelijen yang tidak pernah dibahas maupun dimintai pertanggungjawaban. Ia menambahkan bahwa desakan kelompok garis keras untuk memperoleh bom nuklir tidak akan memperbaiki kelemahan intelijen dan keamanan tersebut.

Di sisi lain, anggota komisi keamanan nasional parlemen yang juga mantan komandan divisi IRGC, Esmaeil Kowsari, menyatakan bahwa musuh-musuh Iran gagal mencapai tujuan utama mereka untuk menggulingkan Republik Islam dan memecah belah negara tersebut. Menurut Kowsari, pihak Amerika Serikat berupaya menciptakan kesan kemenangan melalui gegap gempita dan operasi psikologis menjelang pemilu mereka.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *