Ekonomi & Bisnis

Modus Penyelundupan Ekspor Emas Lewat Bagian Tubuh

Modus Penyelundupan Ekspor Emas Lewat Bagian Tubuh

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan menyatakan bahwa modus penyelundupan ekspor emas kini semakin berkembang dan beragam. Pelaku bahkan nekat memasukkan kapsul berisi serbuk emas ke dalam bagian tubuh seperti dubur atau alat kelamin.

Tantangan Pengawasan di Berbagai Wilayah

Direktur Penindakan dan Penyidikan DJBC, Priyono Triatmojo mengungkapkan bahwa perkembangan modus ini menghadirkan tantangan pengawasan tersendiri bagi pihaknya. Situasi tersebut kian menantang karena banyaknya penerbangan internasional yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, tidak hanya berpusat di Jakarta.

“Banyak penerbangan internasional yang ada di seluruh Indonesia, itu tantangan kami, dan modusnya beragam,” ujar Priyono dalam konferensi pers di Kantor Pusat Bea dan Cukai, Jakarta Timur, Senin (26/10/2026).

Priyono menjelaskan bahwa pola penyelundupan telah bergeser dari cara konvensional melalui barang bawaan penumpang menjadi penyembunyian di dalam tubuh pelaku. Bentuk fisik komoditas yang diselundupkan pun mengalami transformasi.

“Sekarang sudah mulai inserter. Inserter itu dimasukkan ke dalam bagian tubuh tertentu. Modusnya makin beragam. Beberapa bulan yang lalu inserternya dalam bentuk emas padat. Belakangan sudah bergeser emas padat itu dari serbuk,” bebernya.

Pihaknya juga pernah mendapati penyelundupan komoditas berharga tersebut dalam wujud cair yang disamarkan. “Pernah kita lakukan penindakan dalam bentuk cair, diberitakan sebagai chloroauric acid. Nanti dikasih cair tertentu. Cairan itu menjadi emas. Ini tantangan kita. Tantangan kita itu modusnya makin beragam. Caranya makin beragam. Dan ini tersebar makin luas. Tidak hanya di pelabuhan utama tadi,” tambah Priyono.

Modus Menyamar Jadi Perhiasan dan Sinergi Pengawasan

Sementara itu, Kepala KPU Bea Cukai Tipe C Soekarno Hatta Hengky Tomuan Parlindungan Aritonang memaparkan bahwa pelaku rata-rata mengenakan komoditas tersebut agar tampak seperti perhiasan. Barang-barang itu umumnya berupa barang setengah jadi tanpa penyelesaian akhir.

“Rata-rata yang dipakai adalah seakan-akan perhiasaan. Ada yang dibawa sebagai gelang, dipakai di kaki, di leher, ada juga di perut,” tuturnya.

Untuk menghadapi jaringan penyelundupan ini, DJBC mengharapkan sinergi dan kolaborasi dari berbagai instansi terkait, termasuk otoritas bandara, kepolisian kawasan bandara, serta pengamanan di perbatasan darat dan laut yang menjadi titik rawan.

“Yang mungkin juga tidak hanya bandara. Bahwa kita juga punya namanya perbatasan-perbatasan darat. Kita juga namanya punya perbatasan laut. Itu jadi tantangan sendiri. Kami juga terima kasih sudah kolaborasi dengan baik,” imbuh Priyono.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *