Internasional

Penembakan Rasis di Prancis Tewaskan 1 Orang dan 5 Terluka

Penembakan Rasis di Prancis Tewaskan 1 Orang dan 5 Terluka
Daftar Isi
  1. Kronologi dan Identitas Korban
  2. Respons Pihak Berwenang Prancis
  3. Reaksi dan Kecaman Publik

Seorang pria bersenjata di Prancis utara menewaskan satu orang dan melukai lima orang lainnya, termasuk seorang anak perempuan berusia 12 tahun yang mengalami luka serius, dalam sebuah insiden yang disebut pihak berwenang sebagai serangan teroris bermotif rasial. Penembakan pada hari Jumat tersebut terjadi di tengah gelombang unjuk rasa biaya hidup yang melanda negara itu dan diwarnai aksi kekerasan.

Kronologi dan Identitas Korban

Peristiwa penembakan tersebut berlangsung sekitar pukul 10.30 waktu setempat pada hari Jumat. Pelaku yang mengemudikan kendaraan melintasi kawasan Trappes dan La Verriere, wilayah kelas pekerja di pinggiran Paris dengan populasi imigran dan Muslim yang besar, menembakkan senjata otomatis secara acak di stasiun pengisian bahan bakar, pusat medis, dan taman bermain anak-anak. Mengutip laporan Al Jazeera, amuk senjata itu berlangsung sekitar 15 menit sebelum akhirnya tersangka yang diidentifikasi sebagai Kevin T yang berusia 39 tahun berhasil ditangkap.

Anggota parlemen setempat, Laurent Mazaury, menyatakan kepada polisi bahwa pelaku ingin membunuh orang asing. Media Prancis melaporkan bahwa seorang pemuda kulit hitam tewas dalam insiden tersebut, sementara seorang perempuan dan seorang anak perempuan berusia 12 tahun yang mengenakan jilbab termasuk di antara korban luka tembak. Pria yang tewas tersebut diidentifikasi bernama Pengo Bassio Wangi. Menurut sang ibu, anak perempuan berdarah Afrika Utara itu tertembak delapan kali dan harus dilarikan ke rumah sakit anak untuk menjalani tindakan operasi. Pihak kejaksaan menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dari lima korban luka, tiga di antaranya berada dalam kondisi kritis.

Respons Pihak Berwenang Prancis

Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengatakan kepada para wartawan bahwa investigasi masih terus berjalan, namun peristiwa tersebut secara jelas merupakan kejahatan teroris. Pihak kejaksaan menyatakan mereka sedang menyelidiki apakah tersangka bersekongkol dengan kelompok teroris dan menambahkan bahwa seorang anggota keluarga terdekat pelaku telah diamankan. Kepala kepolisian setempat mengatakan kepada media Prancis bahwa aparat menemukan senjata semiotomatis gaya lama yang berasal dari Perang Dunia II di dalam mobil tersangka, beserta granat gas air mata.

Wali Kota Trappes, Ali Rabeh, menuturkan bahwa tersangka menembak secara acak dan berkeinginan menciptakan pertumpahan darah di tengah komunitas, serta menyebutnya sebagai serangan yang secara objektif bersifat rasis dan kemungkinan besar Islamofobia. Perdana Menteri Sebastien Lecornu menyampaikan melalui platform X bahwa kasus tersebut sangat serius dan seluruh sumber daya pasukan keamanan serta peradilan dikerahkan secara penuh. Penembakan ini terjadi pada saat situasi Prancis sedang diliputi ketegangan tinggi akibat demonstrasi biaya hidup dan aksi protes mahasiswa. Otoritas Prancis mengerahkan 70.000 petugas polisi pada hari Sabtu karena unjuk rasa diperkirakan akan terus berlanjut.

Reaksi dan Kecaman Publik

Presiden Emmanuel Macron merilis pernyataan yang menyebut serangan teroris rasis tersebut sebagai titik balik dalam kehidupan Republik dan bangsa Prancis. Pemimpin sayap kanan dari partai National Rally, Marine Le Pen, mengutuk serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan barbar. Kendati demikian, kelompok-kelompok Muslim menuduh kelompok populis sayap kanan menciptakan iklim kebencian di negara itu melalui retorika Islamofobia. Farid Hafez, peneliti senior di The Bridge Initiative Universitas Georgetown, menulis bahwa beberapa anggota sayap kanan berupaya menyalahkan pemuda Muslim atas kekerasan yang terjadi dalam unjuk rasa yang sedang berlangsung.

Wali Kota Rabeh menilai penembakan hari Jumat merupakan akibat dari pihak-pihak yang menyalahkan seluruh permasalahan masyarakat kepada kaum Muslim Arab. Dewan Muslim Prancis menyalahkan para penyebar ujaran kebencian anti-Muslim yang dinilai turut bertanggung jawab atas pertumpahan darah tersebut. Sementara itu, kelompok advokasi dan pemantau melaporkan bahwa kekerasan bernuansa Islamofobia mengalami peningkatan di Eropa dan Amerika Serikat. Amnesty International melaporkan bahwa kekerasan Islamofobia di Britania Raya mencapai tingkat darurat, sementara Badan Hak Fundamental Uni Eropa menyatakan bahwa rasialisme terhadap Muslim meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *