Pebalap Formula 1 Lewis Hamilton kembali menyuarakan seruannya untuk kebebasan Palestina ketika ditanya mengenai keputusan penyelenggaraan balapan Grand Prix di Rwanda. Atlet berusia 41 tahun tersebut menyoroti berbagai isu kemanusiaan global di sela-sela persiapannya menghadapi balapan akhir pekan.
Sorotan Hak Asasi Manusia di Rwanda
Organisasi hak asasi manusia Amnesty International sebelumnya menuduh Formula 1 melakukan pencitraan lewat olahraga atau sportswashing dengan memberikan hak penyelenggaraan kepada Rwanda. Presiden Rwanda Paul Kagame menghadapi berbagai tuduhan terkait metode represif dalam mempertahankan kekuasaan, termasuk pengekangan media independen.
Selain itu, Republik Demokratik Kongo bersama Amerika Serikat dan pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa menuduh Rwanda mendukung kelompok pemberontak M23 yang bertempur di Kongo. Menanggapi situasi tersebut, Hamilton menyatakan bahwa dunia harus mendorong perdamaian dan kebebasan di berbagai wilayah konflik.
“I think we need to make sure we’re pushing to free Congo, free Sudan, free Syria, free Palestine,” ujar Hamilton seperti dilaporkan Al Jazeera. “There’s a lot of peace that I’m hoping we get to at some stage.”
Impian Balapan di Benua Afrika
Formula 1 mencapai kesepakatan dengan Rwanda untuk menggelar balapan pada awal dekade 2030-an, yang sekaligus menandai kembalinya ajang tersebut ke benua Afrika sejak terakhir kali digelar di Afrika Selatan pada tahun 1993. Hamilton mengaku kepastian adanya balapan di Afrika menjadi motivasi baginya untuk terus membalap lebih lama.
Pebalap Ferrari yang akan menginjak usia 42 tahun pada Januari mendatang dan memiliki kontrak hingga 2027 ini menyatakan telah lama memperjuangkan kehadiran balapan di Afrika melalui berbagai pertemuan dengan para pemangku kepentingan dan pemimpin negara. Rekan sesama pebalap, Kimi Antonelli, turut memberikan dorongan agar Hamilton bisa tampil setidaknya pada balapan pertama di benua tersebut.





