Aksi unjuk rasa lanjutan di Prancis kembali diwarnai kericuhan pada akhir pekan ini, yang berujung pada penangkapan hampir 1.000 orang. Demonstrasi tersebut dipicu oleh protes terhadap kenaikan biaya hidup yang sebelumnya juga berujung pada kekerasan massal.
Bentrokan dan Penangkapan Demonstran
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menyatakan bahwa angka penangkapan tersebut khusus mencakup aksi demonstrasi yang berlangsung pada Sabtu (24/10/2026), seperti dilaporkan AFP. Menurutnya, kelompok yang disebut sebagai ultra-kiri sengaja memicu bentrokan dengan melempar berbagai benda serta mengarahkan kembang api ke arah petugas kepolisian.
Laurent menjelaskan bahwa terdapat dua korban yang menderita luka serius akibat insiden tersebut. Seorang korban merupakan pemuda berusia 20 tahun di kota Toulouse yang kehilangan jarinya karena ledakan, sementara satu korban lainnya berada di Clermont-Ferrand, meski rincian lebih lanjut mengenai kejadian itu tidak diungkapkan.
Jumlah penangkapan yang mencapai hampir 1.000 orang pada hari Sabtu tersebut menunjukkan peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya di periode yang sama, di mana pihak berwenang hanya mencatat 385 penangkapan. Meskipun demikian, Laurent menyebutkan bahwa aksi perusakan dan penjarahan toko pada hari tersebut terjadi dalam skala yang jauh lebih kecil karena pusat perbelanjaan dijaga dengan lebih baik.
Situasi di Paris dan Pengamanan Aparat
Di Paris, pusat demonstrasi utama berlangsung relatif damai, kendati bentrokan dengan polisi tetap pecah ketika massa mulai membubarkan diri. Laurent mengungkapkan bahwa terdapat beberapa ribu aktivis radikal yang berada di bagian belakang barisan demonstran, termasuk sekitar 500 orang yang diidentifikasi sebagai perusuh, dengan durasi bentrokan di ibu kota berlangsung sekitar dua jam.
Secara keseluruhan, Laurent menilai kondisi pada hari Sabtu menunjukkan perkembangan yang lebih positif dibandingkan pekan sebelumnya. Pihak kepolisian mengerahkan personel lebih banyak, bergerak lebih cepat dengan pemeriksaan yang lebih ketat sebelum aksi dimulai, serta memberikan pengamanan maksimal bagi tempat-tempat usaha.
Sebelum unjuk rasa lanjutan ini dimulai, otoritas Prancis telah menetapkan status siaga tinggi dengan mengerahkan sekitar 70.000 personel kepolisian di berbagai wilayah. Pengerahan besar-besaran ini diputuskan setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron menggelar rapat bersama dewan pertahanan yang dihadiri para menteri dan pejabat tinggi untuk mengantisipasi eskalasi kerusuhan.
Pihak berwenang menyatakan akan tetap mempertahankan status siaga tinggi sepanjang malam hingga hari Minggu untuk mengawasi situasi di lapangan.
Sumber: News - Detikcom




