Hassan Saber Jumaa, seorang administrator senior di kamp pengungsian Zamzam, Sudan, kini hanya memiliki ingatan tentang tempat yang pernah menampung ratusan ribu orang tersebut. Ponsel lamanya, yang berisi dokumentasi kamp, telah dijarah saat pasukan Rapid Support Forces (RSF) menyerbu kamp di dekat el-Fasher, ibu kota Darfur Utara, tahun lalu.
Kenangan akan Zamzam
Didirikan pada tahun 2004, Zamzam menjadi tempat bernaung bagi generasi yang terusir akibat perang Darfur yang dimulai sejak 2003. Bersama kamp Abu Shouk dan al-Salam, Zamzam merupakan salah satu konsentrasi pengungsi terbesar di wilayah tersebut. Jumaa mengenang Zamzam sebagai komunitas yang hidup, di mana pasar buka setiap hari dan anak-anak rutin bersekolah.
Namun, situasi berubah drastis saat perang Sudan pecah pada 2023. Setelah pengepungan selama berbulan-bulan, RSF merebut kamp tersebut pada April 2025. Sebelumnya, kelaparan telah melanda kamp sejak Agustus 2024. Mukhtar Musa, seorang penyintas, menuturkan bahwa pembatasan akses barang menyebabkan pasokan makanan habis, memaksa warga mengonsumsi pakan ternak dan kulit kacang.
Umm Kulthum Ali Saleh, warga lainnya, menggambarkan masa sebelum serangan sebagai periode tersulit dalam hidupnya. Ia menceritakan bagaimana warga terpaksa memasak rumput dan mencampur lumpur dengan tepung untuk membuat roti. Saleh meyakini blokade tersebut bukan sekadar taktik militer, melainkan cara sengaja untuk melemahkan warga sebelum serangan final dilakukan.
Serangan Militer yang Brutal
Pada 11 April, RSF melancarkan serangan selama tiga hari dengan membakar rumah-rumah jerami dan fasilitas kesehatan. Laporan Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendokumentasikan setidaknya 1.013 warga sipil tewas, termasuk 319 orang yang dieksekusi di rumah, pasar, sekolah, klinik, dan masjid. Laporan tersebut juga mencatat adanya kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan dan perbudakan seksual yang menargetkan komunitas Zaghawa.
Musa mengaku menyaksikan pembunuhan massal tersebut dan melihat pejuang RSF membunuh warga sipil sambil meneriakkan slogan agama. Ia melihat jenazah berserakan di pasar utama dan dekat sekolah. Saleh juga mengingat pemandangan serupa di sepanjang jalan, di mana hanya tersisa hewan ternak yang berkeliaran di antara bangunan yang ditinggalkan.
Serangan ini memaksa puluhan ribu orang melarikan diri dari Zamzam. Kekerasan kemudian meluas ke el-Fasher dan kamp-kamp di sekitarnya. Setelah menguasai Zamzam, RSF menyerang el-Fasher pada Agustus 2025 dan merebut kamp Abu Shouk. PBB melaporkan setidaknya 40 pengungsi tewas di Abu Shouk, sementara International Organization for Migration mencatat sedikitnya 500 orang melarikan diri pada hari itu.
Pada 26 Oktober 2025, RSF akhirnya menduduki el-Fasher. Lebih dari 6.000 orang diyakini tewas dalam serangan di kota tersebut maupun di jalur pelarian. PBB menemukan bahwa RSF menargetkan warga sipil, termasuk kelompok non-Arab, dalam tindakan yang dikategorikan sebagai kejahatan perang. Di sisi lain, RSF sebelumnya telah membantah menargetkan warga sipil di Zamzam dan el-Fasher, meski mengakui adanya pelanggaran yang dilakukan oleh beberapa anggotanya.
Bagi para penyintas, kehancuran kamp bukanlah akhir dari kekerasan, melainkan awal dari gelombang pengungsian baru. Meski kini tersebar di berbagai tempat, mereka berkomitmen untuk terus menyuarakan apa yang terjadi. “Siapa pun yang selamat harus menceritakan kisah tentang apa yang terjadi,” ujar Musa.







