Internasional

Pemilih Pemula Israel Condong ke Kanan dalam Pemilu

Pemilih Pemula Israel Condong ke Kanan dalam Pemilu
Daftar Isi
  1. Dominasi Pandangan Politik Kanan
  2. Menguatnya Pandangan Ekstrem Kanan
  3. Daya Tarik Tokoh Sayap Kanan di Media Sosial

Pemilihan umum pertama di Israel dalam empat tahun terakhir menghadirkan rekor jumlah pemilih pemula yang antusias menggunakan hak suara mereka. Berbeda dengan tren pemuda di berbagai belahan dunia yang condong ke kiri, jajak pendapat menunjukkan bahwa generasi muda di Israel justru bergerak ke arah sebaliknya.

Dominasi Pandangan Politik Kanan

Komite Pemilihan Umum Pusat Israel mencatat lebih dari setengah juta pemilih baru ditambahkan ke dalam daftar pemilih sejak pemilu terakhir pada tahun 2022. Mereka berusia antara 18 hingga 22 tahun, dengan 80 persen di antaranya berencana memberikan suara dalam pemilu legislatif pada 27 Oktober mendatang. Berdasarkan survei lembaga think tank Israel Democracy Institute (IDI), mayoritas pemilih muda Yahudi Israel meyakini bilik suara mampu memengaruhi realitas dan membentuk masa depan negara mereka.

Sekitar tiga perempat pemilih pemula Yahudi yang disurvei dalam jajak pendapat Channel 12 mengidentifikasikan diri mereka sebagai pendukung kubu kanan atau tengah-kanan. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan populasi Israel secara keseluruhan yang memang telah bergeser ke kanan selama bertahun-tahun. Julukan “Generasi Kanan” kini disematkan kepada kaum muda Yahudi di Israel, tidak termasuk warga Palestina di negara tersebut.

Menguatnya Pandangan Ekstrem Kanan

Pemilu kali ini menjadi yang pertama sejak serangan 7 Oktober 2023, yang dinilai sarat perpecahan serta krusial bagi kelangsungan politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu beserta pendekatan sayap kanannya. Para kritikus menuding pemimpin terlama dalam sejarah Israel tersebut mendukung para politikus ekstrem kanan demi mempertahankan kekuasaan, termasuk dengan menyerahkan posisi penting kepada Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich.

Dalam video karya satiris Lior Schleien, seorang pelajar muda menyatakan pandangan rasis dan melontarkan ancaman kekerasan terhadap warga Arab di Israel. Schleien, seorang aktivis sayap kiri yang sering mengunjungi sekolah-sekolah sebelum para siswa menjalani wajib militer, sempat menghapus video tersebut setelah menuai kecaman publik. Sementara itu, dalam sebuah pertemuan balai kota, ketika ditanya mengenai dugaan genosida di Gaza, seorang siswi justru melontarkan pertanyaan apakah tindakan tersebut memang harus dilakukan.

Daya Tarik Tokoh Sayap Kanan di Media Sosial

Dalam pertemuan pendukung partai berhaluan kiri Demokrat di Tel Aviv, seorang remaja berusia 18 tahun bernama Gili mengungkapkan kepada kantor berita AFP bahwa ia merasa masyarakat Israel telah mengabaikan gagasan perdamaian. Menurutnya, trauma akibat serangan 7 Oktober menimbulkan ketakutan mendalam sehingga perdamaian sulit tercapai.

Sebuah survei surat kabar Yedioth Ahronoth menunjukkan lebih dari 16 persen pemilih baru berencana mencoblos partai-partai ekstrem kanan. Di bagian selatan Israel, seorang remaja bernama Amihai mengenakan kaos bergambar Menteri Ben-Gvir dan menyatakan niatnya untuk memilih partai Otzma Yehudit, yang dipimpin oleh Ben-Gvir yang tinggal di permukiman ilegal di Tepi Barat yang diduduki.

Menteri Ben-Gvir dinilai berhasil memahami bahasa anak muda Israel dan meraup dukungan dari pemilih pemula, meskipun ia memiliki catatan kriminal dan pernah dihukum karena mendukung organisasi teror. Melalui video kunjungannya ke penjara-penjara Israel untuk mengancam tahanan Palestina yang kerap viral di media sosial, ia berhasil memperluas basis dukungannya. Berdasarkan survei IDI, platform media sosial dan aplikasi perpesanan seperti WhatsApp serta Telegram menjadi sumber informasi utama yang kerap memaparkan konten politik kepada generasi muda.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *