Internasional

Pemerintah 33 Negara Siaga Darurat, Warga Diminta Stok Makanan

Pemerintah 33 Negara Siaga Darurat, Warga Diminta Stok Makanan
Daftar Isi
  1. Imbauan Kesiapsiagaan di Berbagai Negara
  2. Daftar 33 Negara Siaga Darurat
  3. Strategi dan Kebijakan Pemerintah

Pemerintah dari puluhan negara di berbagai belahan dunia saat ini meminta warga mereka untuk menyiapkan sejumlah perbekalan guna menghadapi keadaan darurat. Berdasarkan laporan CNBC Indonesia yang mengutip Newsweek pada Senin (2/11/2026), total terdapat 33 negara yang mengimbau masyarakatnya untuk menyetok makanan, air bersih, hingga obat-obatan.

Imbauan Kesiapsiagaan di Berbagai Negara

Langkah kewaspadaan ini berkaitan dengan potensi situasi perang, cuaca ekstrem, serta ancaman keamanan siber yang dapat terjadi sewaktu-waktu, dengan tingkat kesiapsiagaan yang disarankan bervariasi di tiap wilayah. Rata-rata negara meminta masyarakatnya untuk menyiapkan persediaan darurat selama tiga hari, meskipun ada pula yang menetapkan durasi lebih lama.

“Jangan menunggu keadaan darurat: bersiaplah sekarang!” demikian seruan akun pemerintah untuk wilayah Normandia Prancis dalam pernyataan di media sosial.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham juga meminta warga agar mulai menyimpan makanan sebagai langkah antisipasi, seperti dilaporkan BBC. “Saya memang suka kacang-kacangan, jadi saya punya banyak kacang-kacangan di lemari, dan sup. Saya rasa makanan-makanan itulah yang saya rekomendasikan untuk dikonsumsi orang-orang,” ujarnya.

Negara lain seperti Kanada, Jepang, Meksiko, dan Belanda turut menyarankan penggunaan perlengkapan darurat untuk jangka waktu 72 jam. Sementara itu, Swedia dan Norwegia menganjurkan penyediaan logistik selama sekitar satu minggu, dan Jerman merekomendasikan persediaan hingga 10 hari.

Daftar 33 Negara Siaga Darurat

Berikut adalah sebaran 33 negara yang meminta warga mereka bersiap menghadapi situasi darurat berdasarkan kawasan:

Eropa mencakup Inggris Raya, Irlandia, Prancis, Jerman, Belanda, Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia, Estonia, Latvia, Lituania, Polandia, Republik Ceko, Austria, Swiss, dan Kroasia. Kawasan Amerika Utara terdiri atas Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Wilayah Amerika Selatan meliputi Chili, Kolombia, Argentina, dan Brasil, sementara Afrika diwakili oleh Afrika Selatan. Untuk kawasan Asia mencakup Jepang, Taiwan, Israel, India, Filipina, dan Singapura, sedangkan Oseania meliputi Selandia Baru dan Australia.

Strategi dan Kebijakan Pemerintah

Isu kesiapsiagaan ini bukanlah hal baru. Komisi Eropa telah meluncurkan Strategi Serikat Kesiapsiagaan sejak Maret 2025 untuk merespons meningkatnya ketegangan konflik geopolitik serta ancaman bencana alam akibat perubahan iklim. Panduan mengenai isi perlengkapan darurat dari berbagai pemerintahan relatif konsisten, yang meliputi makanan tahan lama, air, obat-obatan, baterai, senter, serta radio.

Di Amerika Serikat, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengeluarkan memo yang menyatakan bahwa pangkalan militer harus mampu beroperasi secara mandiri selama sekurang-kurangnya tiga bulan jika pasokan luar terputus akibat konflik. Pada 30 September, Hegseth meluncurkan inisiatif Federal Operations for Resilience, Troop Resources, Energy, Supply and Survivability (FORTRESS) yang disebut sebagai polis asuransi negara.

Sementara itu, podcaster konservatif Amerika sekaligus mantan wakil direktur FBI, Dan Bongino, menilai langkah kesiapsiagaan darurat penting dilakukan guna menekan kecemasan serta kepanikan masyarakat saat menghadapi masa-masa sulit.

“Siapkan radio darurat dan baterai. Sediakan juga persediaan makanan darurat, alat penampung air hujan, serta tablet pemurni air,” ujarnya.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *