Olahraga

Pemain Kriket Inggris Dihukum 2 Tahun Akibat Kecurangan

Pemain Kriket Inggris Dihukum 2 Tahun Akibat Kecurangan

Pemain kriket amatir asal Inggris, Brian Devine, dijatuhi sanksi skorsing selama dua tahun oleh North Yorkshire and South Durham Cricket League (NYSDCL). Keputusan ini diambil setelah aksinya memetik jari untuk mengelabui wasit menjadi viral di media sosial dan memicu skandal kecurangan.

Devine, yang dijuluki “Clicky Ponting” di media sosial sebagai bentuk rujukan kepada mantan kapten tim nasional kriket Australia Ricky Ponting, dituduh menipu wasit dengan menjentikkan jarinya. Suara jentikan tersebut dibuat agar menyerupai bunyi bola yang mengenai pemukul saat lemparan luput dan ditangkap oleh wicketkeeper.

Rincian Sanksi bagi Pemain dan Klub

Video kecurangan tersebut sempat ramai diperbincangkan di platform media sosial hingga menjadi sorotan internasional awal tahun ini. Sanksi dijatuhkan setelah panel disiplin yang terdiri dari tiga orang meninjau rekaman video, memeriksa wawancara pemain, serta mengkaji pernyataan tertulis dari pihak-pihak terkait.

Sanksi bagi Devine berlaku untuk seluruh kegiatan di bawah yurisdiksi England and Wales Cricket Board (ECB). Periode skorsing tersebut ditetapkan mulai 30 September 2026 hingga 29 September 2028, yang mencakup larangan bermain, melatih, menjadi wasit, mencatat skor, hingga mengelola tim junior.

Selain sanksi individu, klub tempat Devine bernaung, Saltburn Cricket Club, dijatuhi denda sebesar 300 poundsterling atau sekitar 402,87 dolar AS. Tim kedua klub tersebut juga didegradasi ke Divisi Tiga NYSDCL dan diwajibkan memulai musim 2027 dengan pengurangan 60 poin.

Pengakuan Sanksi dan Tanggapan Pihak Terkait

Devine dan pihak Saltburn telah mengakui semua tuduhan yang diarahkan kepada mereka, meskipun pihak klub sempat mengajukan banding atas sanksi yang diberikan. Seperti dilaporkan gazettelive.co.uk, Saltburn menyatakan bahwa mereka berpartisipasi penuh dalam proses disiplin dan menerima keputusan akhir dari hasil banding tersebut.

Dalam pernyataan tertulis kepada Press Association, pihak liga menyampaikan keprihatinan atas tekanan yang dialami berbagai pihak selama proses berlangsung, terutama mereka yang menjadi sasaran pelecehan secara daring maupun langsung. Pihak liga meminta semua orang untuk menghormati proses formal yang kini telah selesai dan menyatakan tidak akan memberikan komentar lebih lanjut.

Sementara itu, mantan kapten tim kriket Australia, Ricky Ponting, turut mengomentari skandal tersebut. Kepada kantor berita Reuters, sosok yang pernah membawa Australia menjuarai dua trofi Piala Dunia 50-over itu mengaku sempat tertawa saat pertama kali mendengar kabar mengenai trik tersebut. Meski demikian, ia merasa kurang nyaman karena namanya turut dikaitkan dengan aksi kecurangan yang dilakukan secara terang-terangan di lapangan.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *