Daftar Isi
Ribuan pelajar dan guru menggelar demonstrasi di berbagai kota di Yunani untuk menuntut peningkatan pendanaan negara bagi sektor pendidikan, fasilitas yang lebih baik, serta ruang kelas yang tidak terlalu padat. Aksi tersebut merupakan bagian dari gelombang protes yang juga terjadi di berbagai negara Eropa lainnya.
Aksi Damai di Athena dan Protes Biaya Hidup
Seperti dilaporkan detikcom dari Reuters pada Kamis (22/10/2026), pihak kepolisian memperkirakan terdapat sekitar 10.000 demonstran yang terdiri atas pelajar sekolah dan mahasiswa dalam aksi damai di pusat kota Athena serta kawasan sekitarnya. Unjuk rasa serupa turut diselenggarakan di berbagai kota lain di seluruh wilayah Yunani.
Para peserta menyampaikan solidaritas terhadap gelombang protes yang meluas di Prancis dan sejumlah negara Eropa lain, yang didorong oleh kenaikan biaya hidup serta kondisi sarana pendidikan yang kian memprihatinkan. Protes ini memberikan tekanan tambahan kepada pemerintahan kanan-tengah pimpinan Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis yang dijadwalkan menghadapi pemilihan umum pada pertengahan tahun 2027. Masyarakat Yunani sendiri masih berjuang menghadapi upah yang stagnan, biaya sewa tempat tinggal yang tinggi, serta kenaikan harga energi bertahun-tahun pasca krisis utang.
Sebelum melakukan pawai pada hari Rabu, para pelajar sempat mendirikan tenda di Lapangan Syntagma yang berada di pusat kota Athena dan melaksanakan aksi menginap. Di depan gedung parlemen, para pengunjuk rasa menyerukan tuntutan agar pendidikan publik digratiskan dari Yunani hingga Prancis.
Dampak Mogok Kerja dan Tanggapan Pemerintah
Aksi mogok kerja yang dilakukan oleh sejumlah guru sekolah dasar dan dokter sebagai bentuk protes terhadap masalah upah serta kekurangan staf sempat mengganggu kegiatan di sekolah negeri dan rumah sakit. Menanggapi situasi ini, Menteri Pendidikan Yunani Sofia Zacharaki menyatakan bahwa dirinya telah mendengar tuntutan para pelajar.
Sofia Zacharaki mengakui bahwa biaya perumahan memberikan beban berat bagi rumah tangga di Yunani. Ia menambahkan bahwa pemerintah saat ini sedang menjalankan proyek senilai lebih dari EUR 733 juta atau sekitar Rp 14,8 triliun guna membangun asrama mahasiswa baru serta meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan.
Yunani sebelumnya telah keluar dari krisis utang periode 2009 hingga 2018. Kebijakan penghematan pada masa itu mewajibkan pemotongan upah dan anggaran pendidikan sebagai syarat memperoleh tiga paket dana talangan internasional senilai sekitar EUR 290 miliar atau setara Rp 5.855 triliun.
Daya Beli Rendah dan Kesulitan Ekonomi
Meskipun gaji mengalami kenaikan sejak masa krisis tersebut, daya beli riil sebagian besar warga Yunani tetap berada di jajaran yang terendah di Uni Eropa. Situasi ini semakin tertekan oleh lonjakan inflasi serta kenaikan harga bahan bakar akibat konflik yang melibatkan Iran.
Rata-rata gaji bulanan sebesar EUR 1.500 atau sekitar Rp 30 juta masih tertahan di tingkat yang sama dengan tahun 2009. Di sisi lain, harga sewa yang melambung tinggi membuat banyak kaum muda di Yunani tidak lagi mampu menjangkau biaya hunian di perkotaan.
“Bertahan hidup di sini sangat sulit; harga sewa sangat mahal, sementara rumah-rumahnya sangat kecil. Orang tua kami tidak mampu mencukupi kebutuhan untuk membayar sewa, listrik, dan biaya hidup kami di sini,” ujar seorang mahasiswa bernama Georgia Foukidou (21) yang mengikuti aksi protes di Athena.
Aksi demonstrasi di Yunani ini mengikuti protes yang telah berlangsung selama beberapa hari di Prancis dan Albania. Di negara-negara tersebut, kemarahan akibat kenaikan biaya hidup dan dugaan korupsi sempat memicu bentrokan serta kerusakan properti yang parah, sementara aksi di Yunani dalam beberapa bulan terakhir sebagian besar berlangsung secara damai.
Pemerintahan di bawah pimpinan Perdana Menteri Mitsotakis mengemukakan bahwa subsidi negara serta bantuan lain yang disalurkan untuk menopang rumah tangga dan dunia usaha dalam menghadapi kenaikan biaya energi akan mencapai sekitar EUR 1 miliar atau setara Rp 20 triliun.
Sumber: News - Detikcom


