Daftar Isi
Partai politik yang menaungi Senator Flavio Bolsonaro akhirnya mengakui hasil pemilu putaran kedua presiden Brasil, meskipun sang kandidat dari sayap kanan sempat berikrar untuk menganulir hasilnya. Valdemar Costa Neto selaku pemimpin Partai Liberal mengeluarkan pernyataan pada Senin (16/10) yang menyatakan kelompok politiknya telah menerima hasil pemungutan suara tersebut.
Pengakuan dan Penolakan Hasil Pemilu
Meskipun mengakui kemenangan lawan, Costa Neto tetap menyuarakan kekhawatiran terkait jalannya pemilu. Bolsonaro sendiri dikalahkan oleh petahana dari sayap kiri, Presiden Luiz Inacio Lula da Silva, dengan selisih lebih dari 4,4 juta suara pada pemilu hari Minggu.
Hingga kini, Bolsonaro belum menyampaikan pengakuan secara resmi atas kekalahannya. Dalam pidato pascapemilu, ia menilai hasil pemungutan suara tersebut tidak dapat diterima karena adanya perpanjangan jam pencoblosan pada detik-detik akhir. Kepada para pendukungnya, ia menyatakan akan mengambil langkah hukum dan meminta agar pemilu dibatalkan.
Melalui sebuah video yang diunggah ke media sosial pada hari Senin, Bolsonaro juga mengumumkan bahwa kepolisian federal memintanya menyerahkan paspor. Permintaan tersebut muncul di tengah spekulasi bahwa ia berencana meninggalkan negara setelah kekalahannya. Bolsonaro menegaskan dirinya akan mematuhi perintah itu dan tidak memiliki rencana untuk pergi.
Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut berasal dari seorang hakim Mahkamah Agung yang mendasarkan tindakannya pada pernyataan saudara laki-lakinya yang berbasis di Amerika Serikat, Eduardo Bolsonaro. Eduardo sebelumnya menyatakan dalam sebuah siniar bahwa ia mendukung saudaranya meninggalkan negeri tersebut jika kalah, mengingat adanya berbagai investigasi yang diarahkan kepada Flavio Bolsonaro.
Kepolisian Brasil saat ini tengah menyelidiki Flavio Bolsonaro terkait dugaan korupsi yang berkaitan dengan pendanaan film biografi berjudul Dark Horse mengenai ayahnya. Flavio Bolsonaro menyatakan dirinya tidak pernah berniat meninggalkan negara dan akan menyerahkan paspornya untuk membela diri.
Perpanjangan Waktu Pemungutan Suara
Perpanjangan waktu pemungutan suara pada hari Minggu sebelumnya diajukan oleh tim kampanye kedua belah pihak dengan alasan berbeda. Kubu Bolsonaro menyoroti cuaca buruk yang menghalangi pemilih mencapai tempat pemungutan suara di wilayah selatan Brasil yang merupakan basis sayap kanan.
Sementara itu, kubu Lula mendesak penambahan waktu setelah menuduh sejumlah kota membatasi transportasi umum pada hari pemilu untuk menghalangi basis kelas pekerja memberikan suara. Laporan media menyebutkan seorang pejabat transportasi di kota Salvador, Pablo Souza, ditangkap pada hari Minggu terkait masalah tersebut.
Hakim Mahkamah Agung Cristiano Zanin mengabulkan petisi tersebut dengan memperpanjang waktu pemungutan suara selama dua jam. Aturan ini membuat tempat pemungutan suara yang belum tutup dapat tetap dibuka hingga pukul 19.00 waktu setempat.
Bolsonaro mengecam keputusan tersebut dan menganggapnya merugikan para pemilihnya. Ia menyoroti kedekatan Zanin dengan Lula, mengingat Lula menunjuk Zanin ke mahkamah agung pada tahun 2023 dan Zanin pernah menjadi pengacara pribadi politikus sayap kiri tersebut.
Namun, para pakar meragukan klaim kecurangan yang disuarakan oleh Bolsonaro. Analisis dari Pedro Burgos, seorang profesor di lembaga pendidikan Brasil Insper, mendapati bahwa perpanjangan waktu tersebut hanya menghasilkan 35.000 suara tambahan di seluruh negeri atau kurang dari 0,03 persen dari total suara, jauh dari keunggulan 4,4 juta suara yang diraih Lula.
Respons Internasional dan Masa Depan Politik
Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan bahwa pemilu tersebut tampak dicurangi. Meskipun demikian, Trump tidak menyatakan akan turun tangan dan mengaku tidak memihak dalam pemilu tersebut.
Penolakan Bolsonaro untuk mengakui kekalahan menimbulkan kekhawatiran apakah ia akan mematuhi proses demokrasi atau mengikuti langkah ayahnya, Jair Bolsonaro, yang memimpin Brasil pada periode 2019 hingga 2023. Setelah kalah dari Lula pada pemilu 2022, Jair Bolsonaro menolak mengakui hasil pemilu dan saat ini sedang menjalani hukuman penjara selama 27 tahun atas tuduhan terkait upaya kudeta serta dilarang menduduki jabatan publik selama delapan tahun.
Flavio Bolsonaro bersama saudara-saudaranya terus berupaya agar ayah mereka dibebaskan dan mengecam persidangan tersebut sebagai bentuk penganiayaan politik. Kendati demikian, belum dapat dipastikan apakah Flavio Bolsonaro akan melanjutkan gugatan hukum terkait pemilu hari Minggu.
Surat kabar Folha de S Paulo melaporkan pada hari Senin bahwa para penasihat hukum dan sekutu politik telah meyakinkan Bolsonaro untuk mengurungkan niatnya membatalkan kekalahan, dengan mempertimbangkan margin kemenangan Lula yang sangat besar serta pengesahannya oleh Mahkamah Agung dan otoritas pemilu.





