Nasional

Pakar Sebut Kondisi Gambut Kritis dan Picu Bencana

Pakar Sebut Kondisi Gambut Kritis dan Picu Bencana
Daftar Isi
  1. Dampak Alih Fungsi dan Pengeringan Lahan
  2. Kerugian Besar dan Sifat Kerusakan yang Permanen
  3. Ancaman Bencana Berulang di Masa Depan

Kerusakan lahan gambut di Indonesia tidak hanya memperparah kebakaran hutan dan kabut asap, tetapi juga meningkatkan ancaman banjir. Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Tanjungpura Gusti Zakaria Anshari memperingatkan bahwa Indonesia berpotensi menghadapi bencana yang berulang jika kerusakan gambut terus berlanjut.

Dampak Alih Fungsi dan Pengeringan Lahan

Gusti menjelaskan kepada CNN Indonesia bahwa Indonesia memiliki lahan gambut terluas di Asia Tenggara yang awalnya merupakan ekosistem hutan berkayu. Sejak era Orde Baru pada tahun 1970-an, pemerintah membuka gambut sebagai proyek transmigrasi karena dianggap sebagai tanah suboptimal atau lahan kurang bermanfaat. Lahan gambut kemudian banyak dibuatkan kanal agar airnya kering dan mudah ditumbuhi tanaman seperti pakis.

Kondisi gambut yang mengering akibat drainase membuatnya sangat mudah terbakar, terutama karena tumbuhan pakis yang mengering. Kebakaran gambut memiliki sifat membakar di dalam tanah sehingga sulit dipadamkan dan melepaskan kabut asap yang mencemari udara serta berdampak buruk pada kesehatan masyarakat.

Kerugian Besar dan Sifat Kerusakan yang Permanen

Menurut Gusti, kerugian akibat kebakaran gambut sangat besar dan mahal, mencakup biaya pengerahan helikopter serta pasukan pemadam di darat. Dampak jangka panjang terhadap kesehatan juga dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia, terutama bagi masyarakat yang hidup di sekitar lahan gambut seperti di Pontianak.

Meskipun data paleo menunjukkan kebakaran gambut pernah terjadi secara alami dalam kurun waktu ribuan tahun, gangguan masif yang dilakukan manusia dalam 40 hingga 50 tahun terakhir telah merusak fungsi ekosistem tersebut. Hilangnya fungsi penyimpan air membuat tanaman kelapa sawit di atas lahan gambut ikut mengering.

Gusti menyebutkan bahwa laporan UNEP menyatakan emisi karbon dari gambut yang mengering bersifat tidak bisa dikembalikan lagi atau irreversible. Proses pembentukan lapisan gambut membutuhkan waktu ribuan tahun dengan penambahan hanya sekitar setengah milimeter atau kurang per tahun, sehingga pemulihannya tidak mungkin tercapai dalam skala waktu manusia.

Ancaman Bencana Berulang di Masa Depan

Situasi saat ini dinilai sangat parah dan bersifat antropogenik akibat perbuatan manusia dalam membuat drainase masif tanpa penjagaan. Kurangnya kesiapan dan ketahanan sosial membuat masyarakat kelabakan menghadapi gangguan tersebut, sehingga penanganan yang ada saat ini masih sebatas membagikan masker.

Ke depannya, kondisi ini berpotensi memicu dua jenis bencana akibat hilangnya kemampuan gambut menyimpan air. Jika musim kering berlangsung panjang maka kebakaran akan terjadi, sementara curah hujan tinggi yang tidak merata akan langsung menyebabkan banjir karena air terbuang ke pemukiman warga menuju laut.

Masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah gambut juga terancam kehilangan mata pencarian yang selama ini bergantung pada ekosistem tersebut.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *