Manufaktur

Pabrik Sambal Legendaris China Mau PHK dan Ganti Pekerja AI

Pabrik Sambal Legendaris China Mau PHK dan Ganti Pekerja AI

Produsen sambal legendaris asal China, Lao Gan Ma, berencana menggunakan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menggantikan ratusan pekerja pabriknya. Langkah ini memicu gelombang kritik di dunia maya serta ancaman boikot dari para konsumen.

Kontroversi Penggunaan AI di Pabrik Sambal

Berdasarkan laporan Channel News Asia (CNA) yang dikutip dari CNBC Indonesia pada Minggu (1/11/2026), rencana tersebut mencuat setelah Presiden Eksekutif sekaligus Kepala Petugas Mutu Lao Gan Ma, Li Xin, berbicara dalam konferensi pemerintah provinsi pada akhir September lalu. Li menyoroti keberhasilan AI dalam menekan tingkat kecacatan produk serta membantu perusahaan membukukan rekor pendapatan mencapai 5,4 miliar yuan atau sekitar Rp14,73 triliun pada 2025.

Li juga menyatakan bahwa tenaga kerja di salah satu lini produksi menyusut drastis dari lebih dari 600 orang menjadi tinggal 48 orang saja semenjak perusahaan menerapkan sistem pemeriksaan cabai berbasis AI pada tahun sebelumnya.

Pernyataan itu langsung memantik kecaman keras dari publik dunia maya di China. Sejumlah warganet menuding perusahaan yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat kelas pekerja tersebut lebih mementingkan efisiensi dan keuntungan finansial ketimbang nasib karyawannya.

Gelombang kemarahan tersebut terlihat dari tagar terkait kontroversi yang berhasil mengumpulkan lebih dari 120 juta penayangan hingga Rabu. Sebagian pengguna media sosial bahkan melontarkan ancaman boikot.

“Jika kalian mem-PHK pekerja, kami akan menarik produk kalian dari rak,” tulis pengguna Weibo dengan nama akun Xin Ma28, seperti dilaporkan CNBC Indonesia.

Bantahan Perusahaan dan Kekhawatiran Publik

Menanggapi polemik yang terjadi, pihak Lao Gan Ma memberikan klarifikasi dan membantah tudingan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Menurut perwakilan perusahaan dalam keterangan kepada media China, laporan yang beredar tidaklah akurat.

Juru bicara perusahaan membenarkan adopsi teknologi inspeksi berbasis AI, namun menegaskan bahwa lini produksi yang dimaksud tidak pernah mempekerjakan jumlah tenaga kerja sebanyak yang dilaporkan.

Perselisihan ini berlangsung di tengah meningkatnya kecemasan masyarakat China terhadap ancaman AI bagi kelangsungan lapangan kerja, khususnya pada sektor padat karya. Pemerintah Beijing sendiri telah berkomitmen untuk melindungi kesempatan kerja serta mendorong penyerapan tenaga kerja di tengah percepatan adopsi teknologi AI.

Kombinasi tekanan ekonomi, faktor demografi, dan perkembangan AI kini semakin membebani pasar tenaga kerja di negara tersebut, yang memicu perdebatan luas di platform Sina Weibo.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *