Daftar Isi
Kasus pengajuan kebangkrutan di Amerika Serikat (AS) terus mencatatkan peningkatan di tengah agenda America First yang diusung Presiden Donald Trump untuk memperkuat perekonomian domestik. Berbagai sektor mulai dari ritel, manufaktur, hingga media menghadapi tekanan keuangan yang dipicu oleh beban utang dan kenaikan biaya operasional.
Tren Kenaikan Kasus Kebangkrutan
Data dari United States Courts mencatat pengajuan kebangkrutan bisnis di AS mencapai 27.054 kasus dalam periode 12 bulan hingga September 2026. Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 12,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan 24.039 kasus, seperti dilaporkan CNBC Indonesia.
Apabila digabungkan dengan kategori nonbisnis atau kebangkrutan individu, total pengajuan kebangkrutan di AS mencapai 621.111 kasus dalam periode yang sama. Jumlah ini meningkat 11,4 persen dari 557.376 kasus pada periode sebelumnya.
Tren kenaikan ini sudah berlangsung sejak 2022 yang mencatatkan 383.810 kasus. Angkanya terus merangkak naik menjadi 433.658 kasus pada 2023 dan 504.112 kasus pada 2024, sehingga secara keseluruhan total pengajuan kebangkrutan di AS telah melonjak sekitar 61,8 persen dalam empat tahun terakhir. Kendati demikian, angka tersebut masih berada di bawah level hampir 1,6 juta kasus yang tercatat pada September 2010.
Khusus untuk dunia bisnis, lonjakan bahkan terjadi lebih dari dua kali lipat atau sekitar 106,1 persen dibandingkan empat tahun lalu yang masih berada di angka 13.125 kasus. Data S&P Global Market Intelligence juga mencatat 372 pengajuan kebangkrutan perusahaan besar pada semester I 2026, yang merupakan jumlah tertinggi untuk semester pertama sejak 2010.
Sektor Industri dan Perusahaan Ternama yang Terdampak
Berdasarkan pemantauan S&P Global, sektor industrials memimpin dengan 50 kasus pengajuan kebangkrutan sepanjang Januari hingga Juni 2026. Posisi berikutnya diisi oleh sektor barang dan jasa konsumsi nonprimer sebanyak 35 kasus serta layanan kesehatan sebanyak 26 kasus.
Sejumlah perusahaan skala besar turut masuk dalam daftar pengajuan kebangkrutan sepanjang 2026. Perusahaan ritel mewah Saks Global mengajukan perlindungan kebangkrutan pada Januari 2026 dengan utang pendanaan sekitar US$3,4 miliar akibat beban akuisisi Neiman Marcus pada 2024 serta perlambatan penjualan barang mewah. Saks Global kemudian keluar dari proses kebangkrutan pada Juni 2026 dengan nama Exemplar Luxury Group setelah berhasil memangkas utangnya hampir 75 persen.
Selain itu, produsen material khusus Trinseo mengajukan kebangkrutan pada Mei 2026 untuk merestrukturisasi utang sekitar US$2 miliar. Perusahaan penyedia konten visual Getty Images juga mengajukan Chapter 11 pada 21 Oktober 2026 sebagai bagian dari restrukturisasi yang mencakup komitmen investasi ekuitas hingga US$533 juta dari keluarga Getty dan afiliasi Koch Equity Development, dengan operasional yang tetap berjalan.
Nama perusahaan lain seperti Sleep Number dan West Marine turut menghiasi daftar kebangkrutan pada 2026. Intellizence mencatat kasus tersebut tersebar di berbagai sektor mulai dari ritel, manufaktur, layanan kesehatan, hingga transportasi.
Dampak Kebijakan dan Kondisi Keuangan Usaha
Peningkatan kasus kebangkrutan ini terjadi ketika pemerintahan Trump menjalankan kebijakan America First guna memperkuat industri dalam negeri. Kendati demikian, sejumlah kebijakan perdagangan turut mendatangkan konsekuensi biaya bagi perusahaan yang bergantung pada bahan baku dan barang impor.
Laporan Beige Book Federal Reserve pada Oktober 2026 menyebutkan bahwa tarif impor, biaya energi, dan pengiriman masih menjadi sumber tekanan bagi para pelaku usaha. Di sisi lain, tingginye biaya pendanaan dan beban utang turut memperberat kondisi keuangan perusahaan.
Meskipun demikian, lonjakan kebangkrutan ini tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan kebijakan Trump semata karena tren peningkatannya sudah dimulai sejak 2022, jauh sebelum Trump kembali menjabat pada Januari 2025. Permasalahan setiap entitas bisnis pun beragam, mulai dari persaingan ketat, perubahan perilaku konsumen, hingga beban operasional yang membengkak.
Data pengajuan kebangkrutan bisnis yang kini melampaui dua kali lipat dibanding 2022 memperlihatkan bahwa sebagian dunia usaha di AS masih harus berjuang menghadapi tekanan keuangan di tengah upaya penguatan industri domestik.






