Sistem dana pensiun di seluruh dunia tengah menghadapi krisis demografi yang dipicu oleh bertambah panjangnya usia harapan hidup serta penurunan tingkat kesuburan. Kondisi tersebut mengancam keuangan masa pensiun dan menimbulkan keraguan atas kemampuan sistem dalam mempertahankan pembayaran bagi generasi mendatang.
Tantangan pada Dua Sistem Pensiun
Fasilitas pensiun secara umum terbagi menjadi dua kelompok, yakni program pensiun manfaat pasti yang menjanjikan pendapatan tetap bagi para purnakarya dan program iuran pasti yang pembayarannya bergantung pada akumulasi tabungan serta hasil investasi. Penuaan penduduk memberikan tantangan yang berbeda bagi kedua sistem tersebut.
Skema manfaat pasti menghadapi lonjakan kewajiban karena para pensiun hidup lebih lama, sementara peserta program iuran pasti berisiko kehabisan tabungan mereka di masa tua sehingga memberikan tekanan lebih besar terhadap kinerja investasi dana. Direktur Eksekutif di International Centre for Pension Management, Sebastien Betermier, menyatakan bahwa masalah tersebut sangat besar dan semakin nyata seiring berjalannya waktu, di mana sebagian dana pensiun memiliki anggota yang telah menikmati masa pensiun selama hampir setengah abad dan berusia 107 atau 108 tahun.
Skala tantangan tersebut terungkap dalam laporan Marsh CFA Institute Global Pension Index atau MCGPI yang diterbitkan pada hari Selasa pekan sebelumnya. Dari total 55 sistem pensiun yang tercakup dalam indeks, sebanyak 43 sistem memiliki tingkat kesuburan di bawah angka penggantian 2,1 anak per perempuan, sedangkan 23 sistem mencatat angka di bawah 1,5.
Di sisi lain, angka harapan hidup pada usia 65 tahun di wilayah-wilayah yang lebih maju telah meningkat sebesar 50,7 persen sejak tahun 1950 menjadi sekitar 20 tahun tambahan, yang berarti manfaat pensiun kini harus bertahan jauh lebih lama. Jumlah potensi pekerja yang menopang para penduduk lanjut usia juga diproyeksikan merosot tajam. Laporan MCGPI menyebutkan bahwa pendanaan untuk pensiun di masa depan dan perawatan lanjut usia menjadi semakin krusial seiring dengan terus menurunnya rasio pekerja terhadap pensiunan, dan sangat sedikit sistem yang aman dalam operasionalnya saat ini.
Tekanan tersebut dirasakan secara nyata di Amerika Serikat, di mana Dana Perwalian Asuransi Hari Tua dan Survivor yang membiayai manfaat pensiun bagi puluhan juta warga diperkirakan akan menghabiskan cadangannya pada triwulan keempat tahun 2032 menurut laporan wali amanat terbaru. Skema pensiun yang didanai penuh melalui investasi iuran pekerja dan pemberi kerja juga tidak luput dari masalah. Ketika para anggotanya pensiun dan mulai mencairkan manfaat, sejumlah dana mendapati pembayaran yang keluar melebihi dana segar dari iuran yang masuk sehingga memaksa mereka meninjau ulang strategi investasi serta kebutuhan likuiditas.
Mengubah Strategi Risiko
Tekanan demografi mengubah cara pengelolaan investasi dana pensiun, di mana beberapa pihak mengambil risiko yang lebih tinggi untuk memperoleh imbal hasil yang diperlukan guna memenuhi kewajiban pensiun yang terus bertambah. Sejumlah dana yang telah matang sudah membayarkan manfaat lebih besar daripada iuran yang diterima, sehingga mereka semakin mengandalkan hasil investasi dan aset yang terakumulasi.
Di Australia, sekitar sepertiga dari dana superannuation mencatat arus kas alami yang negatif dari aset selama periode tiga tahun, yang menandakan pembayaran manfaat melampaui iuran, berdasarkan laporan tahun 2025 dari Australian Prudential Regulation Authority. Para pengamat industri menuturkan bahwa dorongan untuk menghasilkan imbal hasil lebih tinggi telah mendorong beberapa dana mengarah pada investasi yang lebih berisiko dan kompleks, termasuk ekuitas swasta, infrastruktur, dan kredit swasta.
Associate Director riset negara bagian dan lokal di Center for Retirement Research di Boston College, Jean-Pierre Aubry, menjelaskan bahwa dana pensiun semakin beralih ke investasi yang lebih berisiko meskipun tingkat perubahannya berbeda-beda di setiap pasar. Ia menunjuk dana pensiun pemerintah negara bagian dan lokal di Amerika Serikat yang hanya mengalokasikan sekitar 20 persen aset mereka ke dalam obligasi, sementara sisanya diinvestasikan pada ekuitas dan aset swasta.
Namun, tidak semua pengelola dana pensiun melihat penuaan penduduk sebagai alasan untuk mengambil langkah spekulatif yang lebih besar. Kepala Eksekutif dana pensiun Hostplus asal Australia, David Elias, menyatakan bahwa perubahan demografi hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor yang membentuk keputusan investasi.
Sumber: US Top News and Analysis





