Keuangan

Dino Patti Djalal Minta Pemerintah Sikapi Isu MSCI

Dino Patti Djalal Minta Pemerintah Sikapi Isu MSCI
Daftar Isi
  1. Karakteristik MSCI dan Merosotnya Bobot Indonesia
  2. Pelajaran dari Tiongkok dan Yunani
  3. Rekomendasi Langkah Strategis dan Pembentukan Satgas

Lembaga penyedia indeks saham global, MSCI, telah membuka proposal konsultasi terkait wacana penurunan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menilai kondisi tersebut mencerminkan terjadinya penurunan tingkat kepercayaan investor terhadap pasar modal Tanah Air.

Karakteristik MSCI dan Merosotnya Bobot Indonesia

Melalui unggahan di akun Instagram resminya @dinopattidjalal pada Sabtu (24/10/2026), Dino menegaskan pentingnya mencermati persoalan ini secara serius. Seperti dilaporkan Finance detikcom, Dino mengingatkan bahwa MSCI merupakan organisasi non-pemerintah yang netral dan independen, sehingga tidak bergerak atas dasar kepentingan politik negara mana pun.

“MSCI bukan IMF, lembaga internasional yang dulu mempunyai agenda ekonomi tertentu dan bisa dipengaruhi kepentingan politik pemerintah tertentu, dan sering juga menimbulkan protes amarah rakyat. MSCI itu organisasi non-pemerintah yang netral, independen, dan tidak berkepentingan. Karena itu MSCI menjadi acuan utama bagi para investor global,” terang Dino.

Dino memaparkan bahwa porsi bobot Indonesia dalam indeks MSCI saat ini mengalami penurunan drastis menjadi sekitar 0,3 persen dari yang sebelumnya mencapai 2,6 persen. Posisi ini tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara lain seperti Tiongkok yang mencatatkan bobot sekitar 20 persen, Korea Selatan 18 persen, India 11 persen, Brasil 4,8 persen, Meksiko 1,7 persen, Uni Emirat Arab 1,27 persen, serta Afrika Selatan 3 persen.

Penurunan bobot tersebut murni didasarkan pada kriteria penilaian profesional yang berlaku seragam untuk semua negara, bukan hasil dari konspirasi atau agenda politik tertentu. Dino menambahkan bahwa persoalan keuangan internasional berbeda dengan pertarungan militer sehingga tidak sepatutnya disikapi dengan adu kekuatan atau atas nama nasionalisme.

Pelajaran dari Tiongkok dan Yunani

Untuk menghadapi tantangan ini, Dino menyarankan pemerintah agar belajar dari pengalaman negara lain seperti Tiongkok dan Yunani. Tiongkok sempat ditolak MSCI selama tiga tahun berturut-turut ketika ingin memasukkan saham domestiknya ke kategori pasar berkembang, namun meresponsnya secara terbuka tanpa bersikap defensif.

“Tiongkok merespons dengan terbuka, menyesuaikan dengan standar MSCI tanpa memaki-maki atau defensive. Dan kemudian mereka berhasil masuk di tahun 2018, naik kelas. Begitu juga dengan Yunani yang kastanya sempat diturunkan di tahun 2013 dan sekarang dinyatakan akan naik kelas lagi,” terangnya.

Dino menegaskan bahwa sikap konfrontatif terhadap MSCI justru berisiko merusak kepercayaan investor global. Sebab, mayoritas investor internasional memiliki aturan internal yang membatasi alokasi investasi pada pasar modal yang berstatus standalone.

Rekomendasi Langkah Strategis dan Pembentukan Satgas

Guna memulihkan posisi pasar saham nasional, Dino mengusulkan agar pemerintah segera melangsungkan dialog intensif dan tertutup bersama pihak MSCI. Pemerintah diharapkan memiliki target yang terukur agar skor Indonesia kembali membaik pada Juni 2027 hingga mendekati 1 persen—selevel dengan Malaysia (0,92 persen) dan Thailand (0,97 persen)—atau bahkan menembus angka 2 persen.

Selain itu, ia menyarankan pembentukan satuan tugas (satgas) khusus yang berfokus mengawal isu MSCI. Satgas tersebut dapat melibatkan jajaran dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pemerintah juga diminta menerapkan kebijakan komunikasi satu pintu agar keterangan resmi seputar MSCI hanya disampaikan oleh pejabat berwenang yang ditunjuk, seperti Ketua OJK, Menteri Keuangan, atau pimpinan BEI.

“Terapkan disiplin dan kepekaan yang tinggi terhadap sentimen pasar dalam transaksi saham. Jangan korbankan kepentingan sistemik jangka panjang hanya untuk kepentingan transaksional sesaat. Justru jadikan momentum ini sebagai peluang Indonesia untuk membenahi sistem dari dalam, memulihkan kepercayaan investor global, dan membuat pasar modal kita lebih atraktif,” jelasnya.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *