Internasional

Kalkulasi Iran Hadapi Eskalasi AS Jelang Pemilu dan Hormuz

Kalkulasi Iran Hadapi Eskalasi AS Jelang Pemilu dan Hormuz
Daftar Isi
  1. Upaya Diplomatik dan Tuntutan Teheran
  2. Krisis Kepercayaan dan Faktor Politik
  3. Pengaruh Hormuz dan Ketidakpastian Diplomasi

Kekuatan regional meningkatkan upaya diplomasi guna mencegah eskalasi lanjutan dalam perang delapan bulan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Di tengah situasi tersebut, Teheran menunjukkan sedikit tanda-tanda akan melunak dari pendirian tegasnya.

Upaya Diplomatik dan Tuntutan Teheran

Tiongkok mengumumkan pada Selasa bahwa Beijing akan mengirim seorang utusan ke negara-negara kawasan guna membantu menghindari putaran eskalasi baru. Langkah ini menyoroti urgensi untuk menemukan solusi damai atas konflik yang telah mengganggu pasar energi global dan meluas ke berbagai wilayah.

Sebelumnya pada Senin, pejabat senior dari Arab Saudi, Pakistan, dan Turkiye—tiga negara yang menandatangani pakta pertahanan Mekkah pada Agustus—bertemu dengan pejabat tinggi Iran. Mereka berjanji untuk melanjutkan pembahasan terkait perdamaian dan keamanan di kawasan.

Namun, Teheran tampak bergeming pada tuntutannya, terutama karena memegang pengaruh besar atas masa depan perdagangan maritim di Selat Hormuz. Jalur ini dilewati oleh seperlima minyak mentah dan gas alam cair global sebelum perang meletus.

Negar Mortazavi, editor dan pemandu The Iran Podcast, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa prioritas Iran bukan sekadar mengamankan gencatan senjata baru, melainkan mengakhiri perang secara permanen. Tujuannya adalah membangun pencegahan agar siklus serangan militer oleh AS dan Israel tidak berulang.

Teheran terus menuntut pelonggaran sanksi, penghentian blokade angkatan laut AS di pelabuhan Teluk, serta jaminan bahwa Washington tidak akan melancarkan serangan baru. Sebagai imbalannya, Iran bersedia membantu memulihkan lalu lintas normal di Selat Hormuz. Sementara itu, AS menginginkan konsesi lebih lanjut dari Iran sebelum perundingan damai final disepakati, termasuk konsesi mengenai program nuklir.

Para pengamat menilai kalkulasi Iran didorong oleh beberapa faktor, seperti krisis kepercayaan yang mendalam terhadap Washington yang telah meluncurkan serangan sebanyak tiga kali sejak Juni 2025 di tengah perundingan. Faktor lainnya adalah keyakinan bahwa tekanan ekonomi yang berlanjut dapat memaksa AS memberikan konsesi yang lebih menarik, serta pemilu yang sangat dinantikan di Israel dan AS.

Krisis Kepercayaan dan Faktor Politik

Inti dari posisi Iran adalah keyakinan bahwa upaya diplomatik sebelumnya gagal memberikan perlindungan memadai dari serangan lanjutan AS dan Israel. Serangan pertama perang tersebut diluncurkan pada 28 Februari, tepat ketika perundingan damai sedang berlangsung di Oman.

Pakistan dan Qatar sempat menengahi memorandum of understanding pada Juni tahun ini untuk membuka kembali Selat Hormuz dan meletakkan kondisi awal perundingan nuklir. Namun kesepakatan itu runtuh ketika kedua pihak kembali saling serang, yang berujung pada serangan berkelanjutan AS terhadap Iran pada Juli.

Sina Toossi, peneliti senior non-resident di Center for International Policy (CIP), mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kegagalan kesepakatan tersebut telah membuat posisi Teheran semakin mengeras. Teheran mencari jaminan yang lebih nyata dan tahan lama.

Presiden AS Donald Trump tetap bersikap ambigu mengenai langkah yang akan diambil dalam waktu dekat. Dalam keterangannya kepada para wartawan pada hari Minggu, Trump menyatakan bahwa dirinya mempertimbangkan apakah harus membuat kesepakatan atau menghabisi mereka. Sebelumnya, ia menyebut bahwa serangan terhadap Iran tidak akan terjadi hingga setelah pemilu paruh waktu AS pada 3 November.

Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menyatakan pekan lalu bahwa angkatan bersenjatanya siap merespons setiap serangan baru. Respons tersebut mencakup strategi ofensif untuk menyerang pangkalan operasi militer AS di negara-negara tetangga.

Pemilu paruh waktu AS pekan depan akan menentukan partai mana yang mengontrol Kongres dalam dua tahun terakhir masa jabatan Trump. Survei Reuters/Ipsos menunjukkan hanya 34 persen warga Amerika yang menyetujui penanganan konflik oleh Trump. Perang ini juga telah mendongkrak harga energi, memicu kekhawatiran inflasi yang mendominasi kampanye pemilu.

Sejumlah laporan mengutip pejabat Iran yang menyebut Teheran sengaja memperpanjang perundingan guna menghindari kemenangan politik bagi Trump sebelum pemilu. Analis Mortazavi menilai Teheran ingin memberikan pelajaran kepada Washington bahwa menyerang Iran membawa harga yang sangat mahal.

Sebelum pemilu AS, Israel menggelar pemilu pada hari Selasa yang menghadirkan dimensi lain dalam kalkulasi Iran. Kekalahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dinilai dapat mempersulit pembaruan serangan gabungan dengan AS terhadap Iran.

Pengaruh Hormuz dan Ketidakpastian Diplomasi

Pengaruh utama Iran terletak pada kendali atas pelayaran di Selat Hormuz. Data dari Washington Institute for Near East Policy mencatat bulan Oktober mengalami jumlah serangan tertinggi terhadap kapal komersial di sekitar jalur tersebut.

Harga minyak mentah Brent melonjak melampaui 117 dolar AS per barel pekan lalu akibat serangan Iran terhadap kapal tanker. Chris Beauchamp, kepala analis pasar di IG Group, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Iran sengaja memanfaatkan tekanan ekonomi ini sebagai bagian dari kontes daya tahan melawan Washington.

Inisiatif diplomatik terbaru mencerminkan kekhawatiran kekuatan regional terhadap konsekuensi dari putaran pertempuran berikutnya. Pertemuan antara Arab Saudi, Pakistan, Turkiye, dan Iran di Teheran bertujuan untuk meredakan ketegangan dan kembali ke proses diplomasi guna mewujudkan gencatan senjata permanen.

Analis politik Rami Khouri kepada Al Jazeera menyebut pertemuan tersebut dapat menandai awal pergeseran tatanan keamanan regional dari dominasi Washington menuju peran yang lebih besar bagi negara-negara Timur Tengah. Meski demikian, rintangan terbesar tetap terletak pada kurangnya kepercayaan Iran terhadap komitmen Amerika Serikat setelah dua perang yang telah terjadi.

Teheran menyatakan bersedia bernegosiasi dan telah menunjukkan fleksibilitas melalui proposal untuk mengakhiri perang, namun tidak akan melepaskan pengaruh utamanya di Selat Hormuz di bawah tekanan militer maupun ekonomi.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *