Daftar Isi
Para ilmuwan menjalankan seratus ribu simulasi tumbukan komet dengan Bumi untuk menguji salah satu teori terbesar mengenai apakah kehidupan di Bumi berasal dari luar angkasa. Berdasarkan laporan CNBC Indonesia, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan kehidupan di Bumi bersumber dari luar angkasa sangat kecil dan nyaris mustahil.
Teori Komet dan Bahan Kimia Pembentuk Kehidupan
Selama lebih dari satu abad, banyak ilmuwan menduga bahwa kehidupan di Bumi berawal dari bahan kimia pembentuk kehidupan yang datang dari luar angkasa dan dibawa oleh komet. Fokus utama para peneliti adalah sianida hidrogen, yakni molekul dasar yang dapat membentuk lemak, gula, dan bahan penyusun DNA, yang ditemukan dalam jumlah cukup melimpah di dalam komet. Pertanyaan utamanya adalah kemampuan zat tersebut untuk bertahan hidup setelah menembus atmosfer, menahan panas tabrakan, dan menabrak permukaan Bumi sebelum akhirnya dapat membentuk kehidupan. Tim peneliti dari Universitas Cambridge kemudian menjalankan seratus ribu skenario berbeda untuk meniru masa awal Bumi, ketika puluhan ribu komet menghantam planet ini.
Hasil Simulasi dan Pandangan Peneliti
Dalam 54 persen simulasi, tidak ada satu pun komet yang berhasil mengantarkan zat tersebut dalam jumlah yang cukup karena komet hancur di udara, zatnya terbakar saat menabrak permukaan, atau jatuh ke laut lalu terencer hingga tidak berarti. Pada 46 persen skenario sisanya, setidaknya ada satu komet yang berhasil mendarat dengan membawa zat yang cukup, namun kesempatan yang diberikan sangat singkat dan tidak cukup lama untuk bahan kimia itu berkembang menjadi kehidupan.
Gagasan tersebut memang terdengar indah, tetapi hasil simulasi menunjukkan kemungkinannya sangat kecil, seperti dijelaskan oleh pemimpin penelitian Richard Anslow kepada Science Alert, Jumat (30/10/2026). Menurut Anslow, peristiwa tersebut harus benar-benar menjadi kejadian yang sangat langka dengan perbandingan satu dari sejuta, di mana komet harus menabrak dengan kecepatan dan sudut yang tepat persis, serta lingkungan sesudahnya harus sempurna agar zat itu berkembang menjadi kehidupan. Para peneliti menegaskan bahwa hasil simulasi ini tidak membuktikan kehidupan tidak berasal dari luar angkasa, melainkan membuktikan bahwa jalur ini jauh lebih sulit dan lebih jarang terjadi daripada perkiraan sebelumnya.
Potensi di Planet Lain
Hal yang paling mengejutkan dari penelitian ini adalah jika kehidupan benar-benar datang dari komet, planet lain justru dinilai jauh lebih cocok dibandingkan Bumi. Mars memiliki atmosfer yang lebih tipis dan kecepatan hantaman yang lebih rendah, sehingga lima kali lebih mungkin menerima bahan kimia dari komet dibandingkan Bumi. Sebaliknya, Venus memiliki atmosfer yang sangat tebal sehingga akan menghancurkan hampir semua komet sebelum sempat menyentuh permukaannya.





