Pemerintah Amerika Serikat membuka peluang untuk mengizinkan lebih banyak pasokan bahan bakar diesel atau solar asal Rusia masuk ke pasar global. Kebijakan pelonggaran sanksi energi ini disebut sangat bergantung pada tindakan Moskow ke depan.
Insentif untuk Mengakhiri Perang dan Pasokan Global
Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa penangguhan sanksi ekspor diesel Rusia oleh pemerintahan Presiden Donald Trump awal bulan ini merupakan sebuah insentif agar Moskow segera menyudahi perang di Ukraina. Seperti dilaporkan CNBC International, Wright dalam wawancaranya pada Selasa (27/10/2026) menilai langkah tersebut sekaligus membantu pasokan bahan bakar di pasaran secara marjinal, seperti dikutip dari CNBC Indonesia.
Data platform pelacakan kapal MarineTraffic mencatat kapal tanker berbendera Rusia bernama Talisman dijadwalkan tiba di Pantai Timur AS pada 9 November mendatang. Kapal tanker lain yakni Leruo juga telah bertolak dari Rusia menuju Pantai Atlantik tanpa mencantumkan AS secara tegas sebagai pelabuhan tujuannya.
Wright memprediksi akan semakin banyak kapal tanker pengangkut solar Rusia yang beroperasi memanfaatkan aturan pengecualian sanksi AS ini. “Ini adalah upaya untuk memberikan umpan di depan Rusia,” ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump dan Presiden Vladimir Putin menyepakati ekspor diesel Rusia sebanyak 800.000 metrik ton untuk periode Oktober dan November, yang bakal dilanjutkan dengan tambahan satu juta ton berikutnya.
Tekanan Politik Domestik dan Kritik Internasional
Perjanjian tersebut ditempuh tatkala Trump menghadapi tekanan politik yang sangat kuat untuk meredam lonjakan harga diesel menjelang pemilihan paruh waktu AS pada Selasa pekan depan. Harga bahan bakar di seluruh wilayah AS melonjak drastis semenjak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu.
Kendati demikian, para analis berpendapat bahwa jumlah volume diesel dalam kesepakatan tersebut tidak bakal menurunkan harga secara signifikan di pasaran. Pasalnya, volume pengiriman itu tergolong sangat kecil apabila dikomparasikan dengan total permintaan global yang mencapai sekitar 28 juta barel per hari.
Pengiriman perdana dari Rusia sebanyak 300.000 metrik ton hanya sebanding dengan sekitar 75.000 barel per hari jika didistribusikan dalam durasi satu bulan. Sedangkan tahap kedua sejumlah 500.000 metrik ton hanya setara dengan kisaran 124.000 barel per hari.
Kebijakan ini langsung memicu kritik keras dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Sepanjang tahun ini, Kyiv terus menggempur kilang-kilang minyak Rusia guna memangkas pendapatan energi Kremlin serta menekan kapasitas Moskow dalam meneruskan perang.
Gempuran bertubi-tubi tersebut sempat memaksa Moskow memberlakukan larangan ekspor solar pada Juli lalu, yang kini telah dicabut sebagian demi memenuhi kesepakatan bersama Trump. Di samping itu, perjanjian tersebut turut menyulut kemarahan domestik AS di mana sejumlah senator dari Partai Republik melayangkan surat protes bersama rekan-rekan mereka dari Partai Demokrat untuk mengecam perjanjian tersebut.
“Hadiah bagi musuh kita dan pengkhianatan terhadap Sekutu kita,” tulis surat kecaman tersebut.






