Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mendapati sebuah kawah raksasa dengan bentuk mirip laba-laba yang membentang di wilayah Kimberley, Australia. Potret kawah tersebut diabadikan melalui instrumen Operational Land Imager (OLI) yang terpasang pada satelit Landsat 9 milik NASA bekerja sama dengan USGS.
Struktur dan Karakteristik Kawah
Kawah yang dinamai Spider Crater ini memiliki bentuk oval dengan dimensi sekitar 13 kilometer kali 11 kilometer. Sementara itu, bagian tengah kawah yang menyerupai laba-laba mempunyai ukuran lebar mencapai 4 kilometer.
Para pakar geologi berpendapat bahwa pola berbentuk laba-laba tersebut berasal dari sisa pengangkatan bagian tengah kawah atau central uplift. Bagian ini merupakan area dasar kawah yang mengalami pengangkatan akibat proses pemantulan kembali seusai menerima hantaman awal dari benturan.
Bagian kaki laba-laba yang tampak berwarna terang merupakan jajaran punggung bukit batu pasir. Struktur batuan tersebut tetap bertahan ketika lapisan batuan lain yang berada di sekitar zona tumbukan mengalami pengikisan.
Sejarah dan Asal-Usul Pembentukan
NASA menyampaikan bahwa para ilmuwan sempat mengalami kendala dalam merumuskan penjelasan terkait proses pembentukan kawah ini selama puluhan tahun sejak pertama kali ditemukan. Sebagian periset pada mulanya mengira bahwa kawasan tersebut menyimpan sejarah vulkanik.
Melalui investigasi lapangan, para ahli geologi akhirnya menjumpai indikasi kuat bekas tumbukan berupa rekahan berbentuk kipas yang dinamakan shatter cone. Rekahan tersebut hanya bisa terbentuk apabila gelombang kejut dengan kekuatan luar biasa merambat melalui batuan, dan struktur ini tersebar luas di bagian kubah tengah Spider Crater, seperti dijelaskan NASA Earth Observatory pada Selasa (13/10).
Sebagai tahap lanjutan, para peneliti melaksanakan pengujian laboratorium terhadap kristal kuarsa dan zirkon yang menanggung tekanan kejut dari batu pasir di lokasi tersebut. Hasil analisis memperkuat pembuktian bahwa kawah ini terbentuk akibat hantaman meteorit.
Kendati demikian, pihak NASA belum dapat menetapkan waktu kejadian tumbukan secara spesifik. Berdasarkan estimasi umur batuan di area tersebut, peristiwa benturan meteorit diperkirakan berlangsung antara 900 juta hingga 600 juta tahun lampau pada penghujung masa Precambrian.






